Alamorganik.com-Buah segar adalah sumber vitamin dan nutrisi penting bagi kesehatan manusia. Sayangnya, banyak tanaman buah di Indonesia sering menghadapi ancaman penyakit busuk buah, yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp.. Penyakit ini dapat menyerang berbagai jenis buah, dari mangga, pepaya, pisang, hingga stroberi, dan mengurangi kualitas serta jumlah hasil panen secara signifikan.
1. Mengenal Busuk Buah (Colletotrichum spp.)
Busuk Buah Colletotrichum spp Ancaman Serius bagi Buah, yang merupakan salah satu patogen paling umum pada tanaman buah tropis. Jamur ini mampu menyerang buah pada semua tahap pertumbuhan, baik buah muda maupun yang sudah mendekati matang.
Colletotrichum dapat hidup di daun, bunga, ranting, dan sisa buah yang terinfeksi. Spora jamur menyebar melalui air hujan, angin, serangga, atau peralatan pertanian yang terkontaminasi. Jika infeksi tidak ditangani, buah akan membusuk sebelum matang, menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi petani.
2. Gejala Busuk Buah

Penyakit ini memiliki gejala khas yang mudah dikenali oleh petani:
- Bercak Gelap pada Kulit Buah
Buah yang terserang menunjukkan bercak kecil berwarna cokelat hingga hitam. Seiring waktu, bercak meluas dan menjadi area busuk lembek. - Permukaan Buah Retak dan Berjamur
Miselium jamur sering terlihat di permukaan buah, berwarna putih, abu-abu, atau oranye, terutama pada buah yang terluka. - Buah Rontok atau Gugur Dini
Buah yang terinfeksi sering gugur sebelum matang. Buah yang tersisa memiliki kualitas rendah, daging lembek, dan aroma kurang menarik. - Infeksi pada Daun dan Bunga
Selain buah, Colletotrichum juga dapat menyerang daun muda dan bunga, yang menjadi sumber inokulum untuk buah.
3. Faktor Penyebab Busuk Buah
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko busuk buah:
- Lingkungan Lembap
Jamur berkembang pesat saat kelembapan tinggi, misalnya pada musim hujan atau setelah hujan deras. - Buah Terluka atau Tergores
Jamur lebih mudah menyerang melalui luka akibat gesekan, hujan, atau serangan hama. - Sisa Buah dan Daun Terinfeksi
Buah jatuh dan daun yang terserang menjadi sumber spora untuk musim tanam berikutnya. - Varietas Rentan
Beberapa varietas buah lebih sensitif terhadap Colletotrichum, sehingga perlu perhatian ekstra dalam pengelolaannya.
4. Dampak Busuk Buah pada Produksi
Busuk buah memberikan dampak signifikan bagi petani dan industri buah:
- Penurunan Hasil Panen
Buah yang gugur atau membusuk mengurangi kuantitas panen. - Kualitas Buah Menurun
Buah yang tersisa mungkin terlihat tidak menarik, daging lembek, dan berjamur, sehingga harga jual menurun. - Kerugian Ekonomi
Penurunan produksi dan biaya pengendalian penyakit meningkatkan beban petani. - Penyebaran Infeksi
Spora jamur dapat menyebar ke pohon lain atau kebun lain, memperluas wilayah serangan.
5. Cara Mengatasi Busuk Buah (Colletotrichum spp.)

Mengendalikan busuk buah memerlukan pendekatan terpadu, yang mencakup praktik budaya, mekanis, kimia, dan hayati. Berikut langkah-langkah efektifnya:
a. Pemilihan Varietas dan Bibit Sehat
Langkah pertama adalah menggunakan varietas buah yang tahan terhadap Colletotrichum spp. Misalnya:
- Mangga: varietas Arumanis, Gedong, Manalagi.
- Pepaya: varietas California, Bangkok.
- Stroberi: varietas Albion, Camarosa.
Selain itu, gunakan bibit dan benih sehat, bebas penyakit dari sumber terpercaya.
b. Pengelolaan Kebun dan Sanitasi
Sanitasi kebun sangat penting untuk mengurangi sumber spora jamur:
- Bersihkan sisa buah, daun, dan bunga yang terinfeksi.
- Buang atau komposkan bagian tanaman yang terinfeksi jauh dari area kebun.
- Atur jarak tanam dan tajuk pohon agar sirkulasi udara lancar, mengurangi kelembapan.
c. Pengendalian Air dan Penyiraman
Jamur Colletotrichum menyukai lingkungan lembap:
- Hindari penyiraman langsung ke buah atau daun.
- Pastikan drainase kebun baik agar air tidak tergenang.
- Gunakan irigasi tetes atau metode yang meminimalkan kontak air dengan buah.
d. Pemangkasan dan Perawatan Tajuk
Pemangkasan cabang rapat membantu:
- Meningkatkan sirkulasi udara di tajuk pohon.
- Mengurangi kelembapan di sekitar buah dan daun.
- Mempermudah penyemprotan fungisida bila diperlukan.
e. Pengendalian Kimiawi
Jika penyakit sudah parah, fungisida dapat digunakan:
- Pilih fungisida yang direkomendasikan, misalnya triazole atau strobilurin.
- Semprotkan pada gejala awal atau saat buah muda.
- Gunakan dosis sesuai petunjuk agar tidak menimbulkan resistensi jamur.
- Lakukan penyemprotan rutin sesuai intensitas serangan dan kondisi cuaca.
f. Pengendalian Hayati
Pendekatan alami juga efektif dan ramah lingkungan:
- Trichoderma spp. dapat bersaing dengan jamur Colletotrichum.
- Pupuk hayati atau mikroba tanah meningkatkan ketahanan tanaman terhadap infeksi.
- Tanaman penutup tanah atau cover crop membantu menurunkan kelembapan berlebih.
g. Pemantauan Rutin
Pemantauan rutin penting untuk mendeteksi infeksi dini:
- Periksa buah muda, bunga, dan daun setiap minggu.
- Segera tangani buah atau daun yang terinfeksi dengan cara mekanis atau kimia.
- Pemantauan rutin membantu mencegah penyebaran penyakit secara luas.
6. Pencegahan Busuk Buah Secara Terpadu

Pencegahan lebih efektif dibandingkan pengobatan setelah infeksi meluas. Langkah-langkah pencegahan meliputi:
- Pilih varietas tahan penyakit.
- Gunakan benih dan bibit sehat.
- Bersihkan sisa tanaman dan buah terinfeksi.
- Atur jarak tanam dan sirkulasi udara.
- Terapkan pengendalian hayati dan pupuk organik untuk meningkatkan daya tahan tanaman.
- Lakukan pemantauan rutin agar gejala penyakit dapat segera diatasi.
Dengan pencegahan terpadu, risiko busuk buah dapat ditekan, buah tetap berkualitas, dan hasil panen optimal.
Busuk buah yang disebabkan oleh Colletotrichum spp. merupakan ancaman serius bagi produksi buah di Indonesia. Penyakit ini menurunkan kualitas dan kuantitas buah, meningkatkan biaya pengendalian, serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani.
Namun, dengan menerapkan pendekatan terpadu:
- Memilih varietas tahan penyakit dan bibit sehat,
- Menjaga kebersihan kebun dan sanitasi,
- Mengelola air dan kelembapan,
- Melakukan pemangkasan tajuk,
- Mengaplikasikan fungisida atau agen hayati, dan
- Melakukan pemantauan rutin,
petani dapat mengendalikan penyakit secara efektif.
Kunci keberhasilan adalah pencegahan, pengamatan, dan tindakan cepat. Dengan cara ini, buah tetap sehat, berkualitas, dan panen memberikan hasil maksimal bagi petani Indonesia. (rull)









