Alamorganik.com-Bekam sudah lama dikenal sebagai salah satu terapi tradisional yang digunakan masyarakat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan. Banyak orang memilih bekam ketika tubuh terasa pegal, otot terasa kaku, atau muncul nyeri di bagian tubuh tertentu.
Sebagian orang merasa lebih rileks setelah menjalani bekam. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bekam selalu aman untuk semua orang. Prosedur ini tetap memberikan tekanan pada kulit. Bahkan, bekam basah melibatkan penusukan atau sayatan pada kulit hingga mengeluarkan darah.
Karena itu, masyarakat perlu memahami risiko bekam sebelum mencobanya. Jangan hanya melihat manfaat yang sering dibicarakan tanpa mengetahui kemungkinan efek sampingnya.
Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), penelitian tentang bekam memang menunjukkan kemungkinan manfaat, terutama untuk membantu mengurangi nyeri. Namun, bukti ilmiahnya masih belum cukup kuat untuk memastikan manfaat bekam dalam menangani berbagai penyakit.
Mengenal Bekam Kering dan Bekam Basah

Secara umum, masyarakat mengenal dua jenis bekam, yaitu bekam kering dan bekam basah.
Bekam kering menggunakan gelas atau alat khusus yang ditempelkan pada kulit. Terapis kemudian menciptakan tekanan negatif sehingga kulit tertarik ke dalam wadah. Prosedur ini tidak melukai kulit.
Sementara itu, bekam basah menggunakan teknik yang hampir sama, tetapi terapis terlebih dahulu membuat luka kecil pada kulit. Darah kemudian keluar melalui luka tersebut dan terkumpul di dalam alat bekam.
Perbedaan tersebut membuat bekam basah memiliki risiko tambahan. Ketika seseorang melukai kulit, luka tersebut dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri. Prosedur itu juga menyebabkan tubuh kehilangan darah.
Karena itu, orang yang ingin menjalani bekam perlu mempertimbangkan jenis terapi yang mereka pilih dan kondisi kesehatan masing-masing.
1. Bekam Bisa Menyebabkan Infeksi
Infeksi menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian, terutama pada bekam basah.
Ketika terapis menusuk atau menyayat kulit, luka terbuka terbentuk pada tubuh. Jika terapis tidak menjaga kebersihan tangan, alat, atau lingkungan kerja, bakteri dapat masuk melalui luka tersebut.
Masalah juga dapat muncul ketika terapis menggunakan alat yang sama untuk beberapa orang tanpa melakukan sterilisasi dengan benar. Darah yang menempel pada peralatan dapat membawa mikroorganisme dan meningkatkan risiko penularan penyakit melalui darah.
NCCIH memperingatkan bahwa peralatan bekam yang terkontaminasi dapat menularkan penyakit seperti hepatitis B dan hepatitis C jika terapis tidak mensterilkan alat di antara pasien.
Karena itu, jangan memilih tempat bekam hanya karena menawarkan harga murah. Pastikan terapis menjaga kebersihan dan menggunakan peralatan yang sesuai.
2. Bisa Menyebabkan Perdarahan
Bekam basah mengeluarkan darah dari tubuh. Dalam jumlah kecil, kehilangan darah biasanya tidak menimbulkan masalah pada orang sehat. Namun, kondisi setiap orang berbeda.
Seseorang yang memiliki anemia, gangguan pembekuan darah, atau kondisi kesehatan tertentu dapat menghadapi risiko lebih besar.
Risiko juga meningkat jika seseorang terlalu sering melakukan bekam basah. Tubuh membutuhkan waktu untuk mengganti sel darah yang hilang.
NCCIH bahkan mencatat laporan anemia akibat kehilangan darah setelah seseorang menjalani bekam basah secara berulang.
Karena itu, jangan melakukan bekam berkali-kali hanya karena menganggap tubuh perlu mengeluarkan “darah kotor”. Tubuh memiliki sistem sendiri untuk mengatur dan membersihkan darah melalui organ seperti hati dan ginjal.
3. Bekam dengan Api Bisa Menimbulkan Luka Bakar
Beberapa teknik bekam menggunakan panas atau api untuk menciptakan tekanan negatif di dalam wadah. Teknik tersebut membutuhkan keterampilan dan kehati-hatian.
Jika terapis menggunakan panas secara tidak tepat, kulit dapat mengalami luka bakar. Kondisinya bisa semakin parah jika panas mengenai kulit terlalu lama.
NCCIH memasukkan luka bakar sebagai salah satu efek samping yang dapat muncul setelah bekam.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mencoba teknik bekam dengan api sendiri di rumah. Kesalahan kecil dalam mengatur panas dapat menyebabkan cedera.
4. Bekas Bekam Bisa Bertahan Lama
Lingkaran merah, ungu, atau kehitaman sering muncul setelah seseorang menjalani bekam. Banyak orang menganggap tanda tersebut sebagai hal yang wajar.
Dalam banyak kasus, perubahan warna kulit memang akan berangsur hilang. Namun, sebagian orang dapat mengalami perubahan warna yang lebih lama.
Bekam juga dapat meninggalkan jaringan parut. Selain itu, prosedur tersebut berpotensi memperburuk kondisi kulit tertentu, termasuk eksim dan psoriasis.
Karena itu, orang yang memiliki masalah kulit sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menjalani bekam.
5. Risiko Meningkat Jika Terapis Tidak Kompeten
Keterampilan terapis sangat memengaruhi keamanan prosedur.
Terapis yang tidak memahami anatomi tubuh dapat memilih lokasi yang kurang tepat atau memberikan tekanan berlebihan. Kesalahan tersebut dapat menyebabkan luka dan masalah lain.
Bekam juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi pasien. Terapis seharusnya mengetahui apakah seseorang memiliki riwayat penyakit tertentu atau mengonsumsi obat yang dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Jangan ragu bertanya mengenai pengalaman dan prosedur kebersihan terapis. Jika tempat praktik terlihat kotor atau terapis menggunakan alat yang tidak jelas kebersihannya, pertimbangkan untuk membatalkan tindakan.
6. Orang dengan Kondisi Tertentu Perlu Lebih Berhati-hati

Tidak semua orang memiliki kondisi tubuh yang cocok untuk menjalani bekam.
Orang yang mengalami anemia atau gangguan pembekuan darah perlu mendapatkan pertimbangan medis sebelum menjalani bekam basah. Hal yang sama berlaku bagi orang yang menggunakan obat tertentu yang memengaruhi proses pembekuan darah.
Ibu hamil juga sebaiknya tidak langsung menjalani bekam tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Prinsipnya sederhana: jangan menganggap terapi tradisional otomatis aman hanya karena sudah digunakan sejak lama.
Riwayat kesehatan seseorang tetap menjadi faktor penting dalam menentukan keamanan sebuah tindakan.
7. Jangan Gunakan Bekam untuk Menggantikan Pengobatan
Risiko bekam tidak hanya muncul dari prosedurnya. Masyarakat juga perlu memperhatikan risiko ketika seseorang menjadikan bekam sebagai satu-satunya pengobatan.
Misalnya, seseorang mengalami nyeri yang terus berulang. Alih-alih mencari tahu penyebabnya, ia terus melakukan bekam setiap kali nyeri muncul.
Cara tersebut dapat membuat penyakit yang mendasari keluhan tidak terdeteksi.
Bekam mungkin membantu mengurangi rasa sakit pada sebagian orang, tetapi berkurangnya rasa sakit tidak selalu berarti penyakitnya sudah sembuh.
Penelitian terbaru memang menemukan kemungkinan manfaat bekam untuk beberapa kondisi nyeri. Namun, tinjauan sistematis yang terbit pada 2025 menilai seluruh 72 uji yang mereka analisis memiliki risiko bias tinggi sehingga peneliti masih membutuhkan bukti berkualitas lebih baik.
Karena itu, gunakan bekam sebagai terapi komplementer jika memang sesuai, bukan sebagai alasan untuk meninggalkan pemeriksaan medis.
8. Komplikasi Serius Bisa Terjadi Meski Jarang
Sebagian besar orang mungkin hanya mengalami bekas pada kulit setelah bekam. Namun, literatur medis juga mencatat beberapa komplikasi serius.
NCCIH menyebut adanya laporan kasus perdarahan di dalam tengkorak setelah bekam pada kulit kepala serta anemia akibat kehilangan darah setelah bekam basah berulang.
Tinjauan yang terbit pada 2025 juga membahas komplikasi neurologis setelah bekam. Peneliti menemukan sejumlah laporan kasus yang melibatkan komplikasi pembuluh darah dan infeksi. Perdarahan subdural menjadi salah satu komplikasi yang mereka laporkan.
Kasus seperti itu memang jarang. Namun, fakta tersebut menunjukkan bahwa bekam tetap membutuhkan kehati-hatian.
9. Kebersihan Alat Tidak Boleh Diabaikan
Kebersihan menjadi salah satu faktor terpenting ketika seseorang memilih bekam.
Terapis perlu membersihkan dan mensterilkan peralatan sesuai prosedur. Pada bekam basah, terapis juga harus memperhatikan seluruh benda yang bersentuhan dengan darah.
Masyarakat dapat menanyakan langsung kepada terapis mengenai cara mereka menjaga kebersihan alat.
Jika terapis menggunakan kembali alat yang seharusnya sekali pakai atau tidak mampu menjelaskan prosedur kebersihan dengan jelas, sebaiknya jangan melanjutkan tindakan.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan penularan penyakit.
10. Jangan Percaya Semua Klaim tentang “Darah Kotor”
Bekam sering dikaitkan dengan istilah “mengeluarkan darah kotor”. Klaim tersebut terdengar sederhana, tetapi masyarakat perlu memahami bahwa tubuh memiliki mekanisme sendiri dalam mengolah dan membuang zat sisa.
Hati membantu memproses berbagai zat di dalam tubuh, sedangkan ginjal menyaring darah dan menghasilkan urine untuk membuang zat sisa tertentu.
Karena itu, jangan menganggap darah yang keluar ketika bekam sebagai seluruh “racun” yang menumpuk di dalam tubuh.
Penelitian tentang bekam masih terus berkembang. Sampai sekarang, bukti berkualitas tinggi belum cukup untuk memastikan bekam dapat mengobati berbagai penyakit.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Bekam?
Setelah menjalani bekam, perhatikan kondisi tubuh dan kulit.
Bekas lingkaran pada kulit dapat muncul setelah prosedur. Namun, Anda perlu waspada jika area tersebut semakin merah, membengkak, terasa sangat nyeri, mengeluarkan nanah, atau disertai demam.
Segera cari bantuan medis jika mengalami perdarahan yang tidak berhenti, lemas berat, pusing hebat, atau keluhan lain yang terasa tidak biasa.
Jangan menganggap semua keluhan setelah bekam sebagai reaksi normal. Beberapa gejala justru dapat menunjukkan komplikasi yang membutuhkan penanganan.
Jadi, Apakah Bekam Berbahaya?

Bekam tidak otomatis berbahaya bagi setiap orang. Namun, bekam juga tidak bebas risiko.
Risiko paling penting meliputi infeksi, perdarahan, luka bakar, perubahan warna kulit, jaringan parut, serta komplikasi serius yang jarang terjadi. Risiko tersebut dapat meningkat ketika seseorang menjalani bekam tanpa memperhatikan kebersihan, kondisi kesehatan, atau kompetensi terapis.
Pada saat yang sama, masyarakat tidak perlu menganggap semua klaim manfaat bekam sebagai fakta medis. Bukti penelitian mengenai efektivitas bekam masih beragam dan sebagian penelitian memiliki keterbatasan metodologis.
Jika Anda tetap ingin menjalani bekam, pilih praktisi yang kompeten dan pastikan mereka menerapkan prosedur kebersihan yang baik. Beri tahu terapis mengenai kondisi kesehatan dan obat yang sedang Anda konsumsi.
Yang paling penting, jangan gunakan bekam untuk menggantikan diagnosis atau pengobatan dokter. Jika keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau muncul gejala yang mengkhawatirkan, periksakan diri ke tenaga kesehatan.
Dengan memahami manfaat sekaligus risikonya, Anda dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan tidak mudah percaya pada klaim kesehatan yang belum terbukti. (rull*)









