Alamorganik.com-Padi adalah sumber pangan utama di Indonesia dan menjadi tumpuan hidup jutaan petani. Namun, tanaman padi sering terancam oleh berbagai penyakit, salah satunya blas daun, yang disebabkan oleh jamur Magnaporthe oryzae. Penyakit ini bisa menurunkan hasil panen secara signifikan jika tidak ditangani dengan tepat.
Dalam artikel ini, kita akan membahas penyakit blas daun, gejalanya, penyebab, serta langkah-langkah efektif untuk mengobati dan mencegahnya agar tanaman tetap sehat dan produktif.
1. Mengenal Blas Daun pada Padi

Blas daun adalah penyakit jamur yang menyerang daun padi. Jamur Magnaporthe oryzae dapat menginfeksi daun muda maupun tua, menyebabkan bercak-bercak cokelat atau abu-abu. Jika infeksi parah, daun bisa mengering dan mati, mengganggu proses fotosintesis, sehingga produksi gabah menurun.
Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat terutama di musim hujan atau pada lahan dengan kelembapan tinggi. Sumber infeksi biasanya berasal dari sisa tanaman yang terinfeksi atau benih yang membawa spora jamur.
2. Gejala Blas Daun pada Padi
Petani dapat mengenali blas daun dengan mengamati tanda-tanda berikut:
-
Bercak Berbentuk Lanset atau Elips
Daun yang terserang menunjukkan bercak kecil berbentuk elips atau lancet dengan warna abu-abu di tengah dan tepi cokelat. -
Titik Hitam pada Bercak
Di tengah bercak sering terlihat titik-titik hitam kecil, yaitu struktur spora jamur. -
Daun Menguning dan Mengering
Jika infeksi meluas, daun mulai menguning, kering, dan akhirnya gugur, sehingga batang kehilangan daun hijau yang dibutuhkan untuk fotosintesis. -
Penurunan Produktivitas
Tanaman yang terinfeksi parah menghasilkan bulir padi lebih sedikit, gabah lebih kecil, dan kualitas hasil panen menurun.
3. Faktor Penyebab Blas Daun
Blas daun muncul karena beberapa faktor yang mendukung pertumbuhan jamur:
-
Lingkungan Lembap → Spora jamur menyebar dengan mudah pada kondisi kelembapan tinggi atau saat hujan deras.
-
Suhu Ideal 25–30°C → Jamur berkembang pesat pada suhu hangat.
-
Sisa Tanaman Terinfeksi → Bahan organik padi yang terserang menjadi sumber inokulum.
-
Benih Terserang → Benih yang berasal dari tanaman terinfeksi dapat menularkan penyakit ke sawah baru.
4. Dampak Blas Daun pada Hasil Panen
Blas daun dapat menimbulkan dampak serius jika dibiarkan:
-
Penurunan jumlah daun hijau aktif, sehingga proses fotosintesis terganggu.
-
Penurunan jumlah bulir dan kualitas gabah.
-
Tanaman lebih rentan terhadap stres lingkungan lain, misalnya kekeringan atau serangan hama.
-
Kerugian ekonomi bagi petani akibat hasil panen menurun dan biaya pengendalian meningkat.
5. Langkah-Langkah Mengatasi Blas Daun pada Padi

Mengatasi blas daun memerlukan pendekatan terpadu, yaitu kombinasi langkah budaya, mekanis, dan kimiawi. Berikut panduan lengkapnya:
a. Menggunakan Benih Bersih dan Tahan Blas
Langkah pertama adalah memulai dengan benih sehat dan bersertifikat. Petani disarankan memilih varietas padi yang tahan terhadap Magnaporthe oryzae, seperti varietas Ciherang, Inpari 32, atau Mekongga.
Selain itu, benih harus direndam dan disemai dengan baik sebelum tanam. Benih sehat meminimalkan sumber inokulum awal.
b. Pengelolaan Tanah dan Lahan
Jamur blas daun hidup pada sisa tanaman, sehingga pengelolaan lahan sangat penting.
-
Bersihkan sisa tanaman setelah panen agar spora tidak bertahan di lahan.
-
Rotasi tanaman dengan jenis selain padi, seperti kedelai atau jagung, untuk mengurangi jumlah jamur di tanah.
-
Pengaturan jarak tanam yang cukup antara tanaman agar sirkulasi udara lancar dan kelembapan rendah, sehingga jamur sulit berkembang.
c. Pengendalian Air dan Nutrisi
Jamur blas daun berkembang baik di lingkungan lembap. Oleh karena itu, pengelolaan irigasi menjadi penting:
-
Hindari genangan air terlalu lama pada lahan sawah.
-
Pupuk seimbang: Berikan nitrogen secukupnya, karena kelebihan nitrogen dapat membuat daun lebih rentan terserang blas.
d. Pengendalian Kimiawi
Jika serangan blas daun sudah parah, fungisida bisa digunakan dengan cara bijak:
-
Gunakan fungisida yang direkomendasikan, misalnya triazole atau strobilurin.
-
Semprotkan sesuai dosis dan jadwal agar tidak menimbulkan resistensi.
-
Prioritaskan penyemprotan saat gejala awal muncul atau saat daun muda mulai terbuka.
Penggunaan fungisida harus dikombinasikan dengan praktik budaya agar efektif dan ramah lingkungan.
e. Pengendalian Biologis
Pendekatan alami juga bisa diterapkan:
-
Menggunakan agen hayati seperti Trichoderma spp. yang mampu bersaing dengan jamur blas.
-
Pupuk hayati yang meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan jamur.
-
Tanaman pendamping atau cover crop yang mengurangi kelembapan berlebih di sekitar padi.
Pendekatan biologis ini ramah lingkungan dan menekan risiko residu kimia pada gabah.
6. Pencegahan Blas Daun Secara Terpadu

Langkah pencegahan lebih efektif dibandingkan mengobati tanaman yang sudah terinfeksi. Beberapa tips pencegahan:
-
Pilih varietas padi tahan blas.
-
Gunakan benih sehat dan bersertifikat.
-
Lakukan rotasi tanaman dan bersihkan sisa tanaman.
-
Atur jarak tanam dan irigasi agar sirkulasi udara baik.
-
Terapkan pengendalian hayati dan pupuk organik untuk meningkatkan ketahanan tanaman.
Dengan pencegahan terpadu, risiko serangan blas daun dapat ditekan secara signifikan.
Blas daun pada padi yang disebabkan oleh Magnaporthe oryzae adalah salah satu ancaman serius bagi pertanian padi di Indonesia. Penyakit ini dapat menurunkan hasil panen, memengaruhi kualitas gabah, dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani.
Namun, dengan langkah-langkah terpadu:
-
Menggunakan benih sehat dan varietas tahan blas,
-
Mengelola lahan dan sisa tanaman,
-
Mengatur irigasi dan nutrisi,
-
Mengaplikasikan fungisida bijak, dan
-
Memanfaatkan agen hayati,
petani bisa mengendalikan penyakit ini secara efektif.
Kunci keberhasilan adalah pencegahan dan pengamatan rutin. Segera tangani gejala awal sebelum penyakit meluas. Dengan cara ini, padi tetap sehat, produktif, dan memberikan hasil panen optimal bagi petani Indonesia. (rull)









