Cara Membuat Asam Humat Cair dari Eceng Gondok untuk Pembenah Tanah Organik

- Penulis

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alamorganik.com-Banyak petani memanfaatkan asam humat sebagai pembenah tanah karena mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah mengikat air, serta membantu tanaman menyerap unsur hara dengan lebih optimal. Selain membeli produk komersial, Anda juga bisa membuat larutan yang sering disebut asam humat cair dengan memanfaatkan eceng gondok dan beberapa bahan sederhana.

Metode ini menggunakan proses fermentasi dengan bantuan EM4 untuk menguraikan bahan organik. Fermentasi tersebut menghasilkan larutan organik yang mengandung senyawa humat, bukan asam humat murni seperti yang berasal dari leonardit atau humus. Meski begitu, banyak petani memanfaatkan larutan ini sebagai pembenah tanah dalam budidaya pertanian organik.

Bahan yang Dibutuhkan

sumber foto: radarlampung.disway.id

Siapkan bahan-bahan berikut sebelum memulai proses pembuatan.

  • 20 kg eceng gondok utuh beserta akarnya.
  • 2 kg abu kayu.
  • 10 liter air kelapa tua.
  • 1 botol molase.
  • 1 botol EM4.
  • Drum plastik berkapasitas 100 liter.
  • Air bersih secukupnya.

Cara Membuat Asam Humat Cair

1. Aktifkan Larutan EM4

Isi drum dengan air bersih hingga sekitar setengah kapasitas.

Tambahkan satu botol EM4 dan satu botol molase, lalu aduk hingga seluruh bahan tercampur merata.

Selanjutnya, tutup drum dengan rapat dan diamkan selama dua hari atau 2 × 24 jam agar mikroorganisme di dalam EM4 berkembang secara optimal.

2. Siapkan Larutan Abu Kayu

Masukkan 2 kilogram abu kayu ke dalam ember, kemudian siram dengan sekitar 10 liter air panas.

Aduk hingga abu bercampur rata, lalu diamkan sekitar tiga jam sampai endapan turun ke dasar ember.

Setelah endapan mengumpul di bagian bawah, ambil air bening pada bagian atas dan buang endapan abunya.

Air abu ini membantu melarutkan senyawa humat dari jaringan eceng gondok selama proses fermentasi berlangsung.

Baca Juga :  MKP dan Biosaka: Rahasia Racikan Alami yang Bikin Petani Hemat dan Panen Melimpah

3. Siapkan Eceng Gondok

Bersihkan eceng gondok dari lumpur dan kotoran yang menempel.

Setelah itu, cacah seluruh bagian tanaman hingga berukuran kecil, termasuk bagian akarnya. Akar eceng gondok mengandung bahan organik dalam jumlah lebih banyak sehingga berperan penting dalam proses fermentasi.

4. Campurkan Seluruh Bahan

Setelah aktivasi EM4 selesai, masukkan eceng gondok yang telah dicacah ke dalam drum.

Tambahkan air kelapa tua sebanyak 10 liter dan air abu yang sudah dipisahkan dari endapannya.

Aduk seluruh bahan hingga tercampur rata, kemudian tambahkan air bersih secukupnya. Sisakan ruang kosong sekitar 30 sentimeter di bagian atas drum agar proses fermentasi berlangsung lebih optimal.

5. Fermentasikan Larutan

Tutup drum dengan rapat, kemudian simpan di tempat yang teduh.

Biarkan bahan berfermentasi selama minimal 30 hari. Semakin lama proses fermentasi berlangsung, semakin optimal penguraian bahan organiknya.

Selama masa fermentasi, buka drum setiap dua hari sekali untuk mengaduk larutan. Setelah selesai mengaduk, tutup kembali drum hingga rapat.

Cara Menggunakan

sumber foto: gemini.google.com

Setelah fermentasi selesai, saring larutan jika masih terdapat potongan bahan organik.

Campurkan 1 liter larutan hasil fermentasi dengan 20 liter air bersih.

Selanjutnya, siramkan larutan tersebut ke bedengan, lahan, atau area perakaran tanaman sesuai kebutuhan.

Manfaat Larutan Hasil Fermentasi

Apabila fermentasi berlangsung dengan baik, larutan ini berpotensi memberikan berbagai manfaat, antara lain:

  • Membantu memperbaiki struktur tanah.
  • Meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.
  • Mendukung perkembangan mikroorganisme yang menguntungkan.
  • Membantu tanaman menyerap unsur hara secara lebih efisien.
  • Menambah kandungan bahan organik di dalam tanah.
  • Merangsang pertumbuhan akar tanaman.

Tips agar Hasil Fermentasi Optimal

Lakukan beberapa langkah berikut agar hasil fermentasi lebih maksimal.

  • Gunakan eceng gondok yang masih segar.
  • Bersihkan seluruh bagian tanaman sebelum mencacahnya.
  • Gunakan perbandingan sekitar 1 kilogram abu kayu untuk setiap 10 kilogram eceng gondok.
  • Simpan drum di tempat teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung.
  • Aduk larutan setiap dua hari sekali selama fermentasi berlangsung.
  • Tutup kembali drum dengan rapat setiap selesai mengaduk.
Baca Juga :  Dari Sampah Jadi “Power Booster” Tanaman: Fakta di Balik Pisang, Krokot & Biosaka

Selain itu, gunakan air bersih yang bebas dari bahan kimia seperti klorin agar mikroorganisme dalam EM4 dapat berkembang secara optimal. Cacah eceng gondok hingga berukuran kecil supaya proses penguraian berlangsung lebih cepat dan merata. Pastikan drum tetap bersih sebelum digunakan untuk menghindari kontaminasi bakteri atau jamur yang dapat mengganggu fermentasi. Periksa aroma larutan secara berkala. Fermentasi yang berhasil biasanya menghasilkan aroma asam segar, bukan bau busuk yang menyengat. Hindari menempatkan drum di lokasi yang sering terkena hujan atau perubahan suhu ekstrem karena kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas mikroorganisme. Setelah fermentasi selesai, gunakan larutan sesuai dosis anjuran agar tanaman memperoleh manfaat secara optimal tanpa menyebabkan ketidakseimbangan unsur hara di dalam tanah.

Kesimpulan

sumber foto: assets-a1.kompasiana.com

Anda dapat memanfaatkan eceng gondok, abu kayu, air kelapa, molase, dan EM4 untuk membuat larutan organik yang berfungsi sebagai pembenah tanah. Fermentasi selama sekitar 30 hari menghasilkan larutan yang kaya senyawa organik dan banyak dimanfaatkan petani untuk membantu memperbaiki kualitas tanah.

Meskipun banyak orang menyebutnya sebagai asam humat cair, larutan ini sebenarnya merupakan hasil fermentasi bahan organik yang mengandung berbagai senyawa humat, bukan asam humat murni. Jika Anda menggunakannya secara rutin dan mengelola tanah dengan baik, larutan ini dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan. (rull)

Berita Terkait

Tips Berkebun Low Budget: Cara Memperbanyak Tanaman Tanpa Beli Bibit
Jati Belanda: Bukan Pohon Jati, Ini Fakta Botani dan Kandungan Senyawanya
Tips Menanam Terong Ungu agar Panen Melimpah dan Berkualitas
Teknik Polikultur: Solusi Bertani Hemat Lahan dengan Hasil Maksimal
Cuma Pakai Gedebok Pisang! Senggol Modot Ini Jadi Cara Alami Mengusir Tikus Sawah
Jangan Asal Tabur Urea! Sisa Pupuk Kimia Ternyata Bisa Merusak Tanah Perlahan
Pestisida Kimia Mengendap di Tanah? Kenali Dampaknya bagi Kesuburan Lahan dan Cara Menguranginya Secara Alami
Bertani Ramah Lingkungan: Cara Menjaga Tanah Tetap Subur Selamanya tanpa Bergantung pada Pupuk Kimia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:02 WIB

Tips Berkebun Low Budget: Cara Memperbanyak Tanaman Tanpa Beli Bibit

Minggu, 9 Agustus 2026 - 18:02 WIB

Tips Menanam Terong Ungu agar Panen Melimpah dan Berkualitas

Rabu, 22 Juli 2026 - 06:02 WIB

Teknik Polikultur: Solusi Bertani Hemat Lahan dengan Hasil Maksimal

Senin, 20 Juli 2026 - 22:02 WIB

Cuma Pakai Gedebok Pisang! Senggol Modot Ini Jadi Cara Alami Mengusir Tikus Sawah

Senin, 20 Juli 2026 - 12:02 WIB

Jangan Asal Tabur Urea! Sisa Pupuk Kimia Ternyata Bisa Merusak Tanah Perlahan

Berita Terbaru

UMKM

Resep Pempek Dos Isi Telur Tanpa Ikan, Gurih dan Kenyal

Selasa, 25 Agu 2026 - 06:02 WIB

UMKM

Resep Piscok Lumer 3 Bahan, Renyah dan Cokelat Meleleh

Senin, 24 Agu 2026 - 22:02 WIB