Alamorganik.com-Jagung menjadi salah satu komoditas penting bagi petani Indonesia. Di beberapa daerah, jagung bahkan menjadi sumber pangan utama selain padi. Nilai jualnya cukup baik, permintaan stabil, dan tanaman ini juga dibutuhkan untuk bahan pakan ternak serta industri. Namun di balik potensinya yang menjanjikan, jagung memiliki musuh utama yang kerap menimbulkan kerugian besar bagi petani: serangan ulat pengganggu tanaman.
Masalah sering muncul ketika tanaman mulai tumbuh subur, daun terlihat hijau, tetapi tiba-tiba berlubang atau batang rapuh dari dalam. Pada kondisi lebih parah, tongkol habis digerogoti ulat sehingga panen menurun drastis. Petani sering baru sadar setelah kerusakan menyebar luas. Karena itu, mengenali jenis ulat sejak dini, memahami tanda-tanda serangannya, dan mengetahui cara mengendalikannya adalah langkah penting yang tidak boleh diabaikan.
1. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Apa itu ulat grayak?
Ulat grayak termasuk hama yang paling sering ditemukan pada jagung. Mereka bergerak aktif pada malam hari untuk makan dan bersembunyi di siang hari, biasanya di bawah daun atau sisa tanaman. Sifatnya rakus dan menyerang secara berkelompok, menyebabkan kerusakan cepat dalam waktu singkat.
Gejala serangan yang mudah dikenali
Anda bisa mengenali serangan ulat grayak melalui tanda-tanda berikut:
- Daun berlubang tidak beraturan seperti digerogoti
- Ujung daun tampak sobek dan rusak
- Pada serangan berat, daun hanya tersisa tulang-tulangnya
- Pertumbuhan tanaman terhambat atau tanaman mengering
- Adanya kelompok telur berwarna putih kekuningan di bawah daun
Jika ulat menyerang tanaman muda, kerusakan bisa fatal hingga tanaman gagal tumbuh.
Cara mengendalikannya
Beberapa langkah efektif yang bisa Anda lakukan:
- Pengendalian mekanis Memungut ulat secara langsung di pagi hari lalu dimusnahkan. Cara ini efektif pada populasi rendah.
- Tanaman perangkap Kenikir dan jarak pagar bisa menarik ulat untuk bertelur sehingga tanaman jagung lebih aman.
- Pestisida nabati Semprotan ekstrak daun sirsak, bawang putih, atau mimba dapat menekan populasi ulat.
- Pestisida kimia Jika populasi tinggi, gunakan insektisida berbahan aktif klorpirifos, spinosad, atau emamectin benzoate sesuai dosis label. Gunakan secara bijak agar tidak memicu resistensi.
2. Ulat Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)

Sekilas tentang penggerek batang
Hama ini terkenal karena merusak bagian dalam batang, tongkol, hingga kelobot. Ulat masuk ke batang dan memakan jaringan dalam, membuat tanaman tampak sehat di luar tetapi rusak dari dalam.
Gejala serangan
Serangan penggerek batang cukup khas dan mudah dikenali:
- Terdapat lubang memanjang pada batang
- Muncul serbuk halus seperti kotoran ulat di sekitar lubang
- Tanaman mudah roboh karena batang kopong
- Tongkol tidak terbentuk sempurna
- Daun muda menunjukkan pola lubang berderet
Jika serangan terjadi pada fase generatif, kualitas biji menurun drastis bahkan tongkol gagal terbentuk.
Cara mengendalikan penggerek batang
- Rotasi tanaman, Jangan menanam jagung terus menerus pada lahan yang sama.
- Sanitasi lahan, Bakar atau musnahkan sisa tanaman yang terserang agar larva tidak berkembang.
- Musuh alami, Parasitoid Trichogramma spp. mampu memakan telur ulat.
- Pestisida, Semprot saat fase telur larva muda, karena ulat yang sudah masuk batang sulit dilawan.
3. Ulat Tongkol Jagung (Helicoverpa armigera)
Mengenal hama tongkol
Ulat tongkol menjadi ancaman besar karena menyerang bagian paling berharga: tongkol jagung. Warnanya bervariasi antara hijau, coklat, hingga gelap sehingga sulit dikenali jika menyatu dengan warna biji.
Tanda-tanda serangan
- Kelobot berlubang pada ujung atau samping
- Biji jagung tampak rusak, membusuk, atau menghitam
- Banyak kotoran ulat dalam tongkol
- Biji habis dimakan sebagian atau seluruhnya
Kerusakan tongkol tidak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga menurunkan kualitas jual.
Cara mengendalikannya
- Monitoring jenis ngengat menggunakan perangkap feromon sejak awal musim tanam.
- Panen tepat waktu untuk menghindari tongkol terlalu lama terbuka bagi hama.
- Pestisida biologis Bt efektif membunuh ulat muda.
- Pestisida nabati seperti ekstrak biji mimba atau serai wangi untuk pengendalian ramah lingkungan.
4. Ulat Jengkal Jagung (Nacoleia sp.)

Sekilas tentang ulat jengkal
Ulat ini bergerak unik seperti mengukur jengkal, karena tubuhnya menekuk saat melangkah. Mereka biasanya menyerang daun dan bunga jantan.
Gejala serangan
- Daun sobek atau tersayat
- Bunga jantan tampak rusak
- Ulat sering bersembunyi di balik daun
Kerusakan pada bunga jantan dapat mengganggu produksi tepung sari, sehingga proses penyerbukan terganggu.
Cara mengendalikan
- Memungut ulat secara manual
- Menyemprot pestisida alami dari tembakau atau bawang putih
- Menjaga kebersihan lahan agar ulat tidak memiliki tempat berlindung
5. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Mengenal ulat tanah
Ulat ini aktif di malam hari dan bersembunyi di dalam tanah saat siang. Mereka menyerang pangkal batang tanaman muda hingga terputus.
Tanda serangan
- Tanaman muda roboh tiba-tiba
- Pangkal batang terpotong bersih
- Tanaman hilang satu per satu dalam deret tanam
Kerusakan bisa terjadi cepat dan merata jika tidak segera dikendalikan.
Cara mengatasi ulat tanah
- Olah tanah maksimal sebelum tanam untuk memutus siklus hidup ulat.
- Gunakan perangkap lampu untuk menarik ngengat dewasa pada malam hari.
- Taburkan abu sekam atau kapur di sekitar batang untuk mengurangi serangan.
- Gunakan insektisida butiran bila populasi tinggi.
Langkah Pencegahan Agar Jagung Lebih Aman dari Ulat

Pencegahan selalu lebih murah daripada mengobati. Beberapa cara sederhana yang bisa Anda lakukan:
- Sanitasi lahan, Bersihkan gulma dan sisa tanaman.
- Tanam serentak, Memutus siklus hidup ulat dan menekan populasi.
- Pemupukan seimbang, Tanaman sehat lebih tahan serangan.
- Pengamatan rutin minimal 3 hari sekali Cek daun, batang, hingga tongkol.
- Gunakan pestisida dengan bijak, Jadikan pilihan terakhir, bukan utama.
Serangan ulat pada tanaman jagung memang menjadi tantangan besar bagi petani, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan mengenali jenis hama, memahami gejala sejak awal, serta menerapkan teknik pengendalian terpadu, Anda bisa menjaga tanaman tetap sehat dan produktif. Penggunaan metode nabati, musuh alami, hingga pestisida kimia yang bijak akan membantu hasil panen tetap maksimal. (rull*)









