Alamorganik.com-Jagung merupakan salah satu komoditas pangan utama di Indonesia setelah beras. Selain menjadi sumber karbohidrat, jagung juga digunakan sebagai bahan pakan ternak hingga industri pangan. Tingginya minat petani untuk menanam jagung sering kali dibarengi dengan tantangan serius, yaitu serangan penyakit yang dapat menurunkan hasil panen secara drastis.
Bagi petani, penyakit jagung bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi keluarga. Kegagalan panen bisa mengurangi pendapatan secara signifikan. Oleh karena itu, mengenali penyakit jagung, gejala yang muncul, dan cara pengendaliannya menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas kebun.
1. Penyakit Bulai (Downy Mildew)
Penyakit bulai disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis atau Peronosclerospora philippinensis. Bulai bisa merusak hingga 90% tanaman jika menyerang pada usia muda.
Gejala yang Perlu Diwaspadai:
- Daun muda berwarna kuning pucat (klorosis).
- Muncul lapisan putih seperti tepung di permukaan daun.
- Pertumbuhan tanaman terhambat dan tampak kerdil.
- Tongkol jagung kecil atau bahkan gagal terbentuk.
Cara Mengatasi dan Mencegah Bulai:
- Gunakan benih unggul yang tahan bulai, seperti varietas BISI, Pioneer, atau jagung lokal adaptif.
- Perlakukan benih dengan fungisida sebelum menanam.
- Tanam jagung di lahan yang tidak tergenang air.
- Lakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inang jamur, misalnya kacang-kacangan atau sayuran.
- Cabut dan musnahkan tanaman yang terserang agar tidak menulari tanaman sehat.
2. Hawar Daun (Leaf Blight)

Hawar daun disebabkan oleh jamur Helminthosporium turcicum atau Exserohilum turcicum, terutama muncul saat musim hujan dengan kelembapan tinggi.
Gejala:
- Bercak memanjang berwarna cokelat pada daun.
- Bercak melebar hingga daun mengering.
- Proses fotosintesis terganggu sehingga tongkol menjadi kecil.
Pengendalian:
- Pilih varietas tahan hawar daun.
- Semprot fungisida yang direkomendasikan, terutama pada fase vegetatif.
- Perbaiki jarak tanam agar sirkulasi udara lebih baik.
- Hindari pemberian nitrogen berlebihan.
3. Busuk Batang (Stalk Rot)
Busuk batang sering muncul menjelang panen dan disebabkan oleh jamur seperti Fusarium atau Diplodia. Meski terlihat sepele, penyakit ini dapat membuat tanaman roboh dan tongkol gagal berkembang.
Gejala:
- Batang terasa lunak dan mudah patah.
- Bagian dalam batang berubah warna menjadi cokelat atau merah muda.
- Tanaman roboh sebelum panen.
Cara Mengatasi:
- Gunakan benih unggul dengan batang kuat.
- Kurangi pemupukan nitrogen berlebihan, perbanyak fosfor dan kalium.
- Jaga sanitasi kebun dan bersihkan sisa tanaman setelah panen.
- Lakukan rotasi tanaman setidaknya 1–2 musim.
4. Karat Daun (Common Rust)
Karat daun disebabkan oleh jamur Puccinia sorghi dan dapat menyerang pada berbagai fase pertumbuhan.
Gejala:
- Timbul bintil kecil berwarna cokelat kemerahan di daun.
- Daun mengering dan gugur jika dibiarkan.
- Proses fotosintesis terganggu sehingga tongkol mengecil.
Cara Mengatasi:
- Gunakan benih tahan karat.
- Semprot fungisida berbahan aktif seperti mankozeb atau propikonazol jika serangan parah.
- Hindari penanaman terlalu rapat yang meningkatkan kelembapan tinggi.
5. Penyakit Bercak Daun (Leaf Spot)
Bercak daun biasanya disebabkan oleh jamur Curvularia, Bipolaris, atau jenis jamur lain.
Gejala:
- Muncul bercak kecil berwarna cokelat kehitaman pada daun.
- Bercak menyebar dan membuat daun kering.
- Tanaman tampak kusam dan kurang segar.
Pengendalian:
- Pilih varietas tahan penyakit.
- Semprot fungisida secara tepat waktu saat muncul tanda awal.
- Lakukan sanitasi lahan secara rutin.
6. Busuk Tongkol (Ear Rot)

Busuk tongkol disebabkan oleh jamur seperti Fusarium atau Aspergillus, biasanya terjadi pada cuaca lembap atau hujan berkepanjangan.
Gejala:
- Tongkol berjamur berwarna putih, merah muda, atau hijau.
- Biji jagung berubah warna dan mudah rontok.
- Potensi muncul aflatoksin yang berbahaya bagi manusia dan ternak.
Cara Mengatasi:
- Panen tepat waktu, jangan menunda panen.
- Keringkan tongkol secara maksimal sebelum penyimpanan.
- Gunakan benih unggul yang tahan jamur.
Pola Budidaya yang Mendukung Kesehatan Tanaman
Selain mengenali penyakit, pencegahan lebih baik daripada mengobati. Tanaman yang sehat lebih kuat menghadapi serangan penyakit. Beberapa pola budidaya yang efektif antara lain:
1. Pengelolaan Tanah
Gunakan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang matang untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan mikroorganisme baik.
2. Pengairan Tepat Waktu
Jagung membutuhkan cukup air, tetapi jangan sampai tergenang. Kekeringan melemahkan tanaman, sementara genangan memicu pertumbuhan jamur.
3. Rotasi Tanaman
Hindari menanam jagung di lahan yang sama secara terus-menerus. Rotasi dengan tanaman kacang-kacangan dapat memutus siklus penyakit dan memperkaya nitrogen tanah.
4. Pemilihan Benih Unggul
Benih menentukan hingga 50% keberhasilan budidaya. Pilih varietas yang tahan terhadap penyakit utama di wilayah Anda.
5. Penggunaan Pestisida Secara Bijak

Pestisida sebaiknya menjadi upaya terakhir. Gunakan sesuai dosis, waktu, dan rekomendasi yang ada untuk menghindari resistensi dan dampak negatif bagi lingkungan.
Penyakit tanaman jagung menjadi salah satu penyebab utama penurunan produktivitas. Namun, dengan mengenali gejala sejak dini, memahami cara pengendalian, dan menerapkan pola budidaya yang tepat, petani bisa meminimalkan kerugian dan menjaga tanaman tetap sehat hingga panen.
Kunci utama pengendalian adalah pencegahan. Mulai dari pemilihan benih unggul, pengelolaan tanah, sanitasi lahan, hingga penggunaan fungisida secara bijak, semua langkah sederhana ini memberikan dampak besar pada hasil panen.
Dengan pendekatan yang lebih humanis, teknologi yang berkembang, dan kesadaran petani akan pentingnya kesehatan tanaman, pertanian jagung di Indonesia dapat lebih produktif, berkelanjutan, dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. (rull*)









