Alamorganik.com-Bagi petani dan pekebun, fase persemaian menjadi tahap paling krusial dalam budidaya tanaman. Pada fase inilah tanaman masih sangat rentan terhadap gangguan lingkungan dan penyakit. Salah satu penyakit yang paling sering muncul dan merugikan adalah rebah semai atau yang dikenal dengan istilah damping off.
Penyakit ini sering datang tanpa tanda yang mencolok. Bibit tampak sehat pada awalnya, lalu tiba-tiba roboh, layu, dan mati dalam waktu singkat. Akibatnya, petani harus mengulang persemaian, mengeluarkan biaya tambahan, dan kehilangan waktu tanam yang berharga. Untuk mencegah kerugian tersebut, petani perlu memahami penyebab rebah semai secara menyeluruh.
Apa Itu Rebah Semai (Damping Off)?

Rebah semai merupakan penyakit tanaman yang menyerang bibit atau tanaman muda pada fase persemaian. Penyakit ini menyebabkan batang tanaman menjadi lemah, membusuk, lalu roboh ke permukaan tanah. Dalam banyak kasus, bibit mati sebelum sempat tumbuh menjadi tanaman dewasa.
Penyakit ini umumnya menyerang:
- Tanaman sayuran
- Tanaman hortikultura
- Tanaman pangan
- Tanaman perkebunan pada fase pembibitan
Rebah semai dapat muncul sebelum bibit tumbuh di atas permukaan tanah (pre-emergence) atau setelah bibit muncul (post-emergence).
Mengapa Rebah Semai Sangat Berbahaya?
Rebah semai menjadi momok karena menyerang tanaman pada fase paling lemah. Pada tahap ini, sistem perakaran dan batang belum kuat. Begitu patogen menyerang, tanaman tidak memiliki cukup daya tahan untuk melawan.
Selain itu, penyakit ini dapat menyebar dengan cepat. Dalam satu bedengan persemaian, rebah semai bisa mematikan puluhan hingga ratusan bibit hanya dalam beberapa hari.
Penyebab Utama Rebah Semai pada Tanaman
1. Serangan Jamur Patogen Tanah
Penyebab utama rebah semai berasal dari jamur patogen yang hidup di dalam tanah. Beberapa jenis jamur yang paling sering memicu penyakit ini antara lain:
- Pythium spp.
- Rhizoctonia solani
- Fusarium spp.
- Phytophthora spp.
Jamur-jamur tersebut menyerang bagian pangkal batang dan akar bibit. Mereka merusak jaringan tanaman hingga batang tidak mampu menopang tubuh tanaman.
Jamur patogen ini berkembang sangat cepat pada kondisi tanah yang lembap dan hangat, kondisi yang sering terjadi di persemaian.
2. Kelembapan Tanah yang Terlalu Tinggi
Tanah yang terlalu basah menciptakan lingkungan ideal bagi jamur penyebab rebah semai. Ketika petani menyiram persemaian secara berlebihan, air akan menggenang di sekitar akar bibit.
Genangan ini:
- Mengurangi oksigen dalam tanah
- Melemahkan akar tanaman
- Memicu pertumbuhan jamur patogen
Akibatnya, jamur lebih mudah menyerang jaringan tanaman yang lemah.
3. Drainase Persemaian yang Buruk
Selain penyiraman berlebih, sistem drainase yang buruk juga memicu rebah semai. Air hujan atau air siraman yang tidak dapat mengalir dengan baik akan tertahan di media tanam.
Kondisi ini sering terjadi pada:
- Bedengan tanpa parit
- Wadah semai tanpa lubang drainase
- Media tanam yang terlalu padat
Drainase buruk membuat tanah selalu lembap dan mempercepat perkembangan patogen.
4. Media Tanam yang Terkontaminasi
Media tanam yang sudah tercemar jamur patogen menjadi sumber utama penularan rebah semai. Tanah bekas persemaian lama, kompos yang belum matang, atau pupuk kandang mentah sering mengandung patogen aktif.
Ketika petani menggunakan media tersebut tanpa sterilisasi, jamur langsung menyerang bibit sejak awal pertumbuhan.
5. Kepadatan Bibit Terlalu Tinggi

Menanam bibit terlalu rapat membuat sirkulasi udara di sekitar tanaman menjadi buruk. Kondisi ini meningkatkan kelembapan di permukaan tanah dan batang bibit.
Selain itu, kepadatan tinggi menyebabkan:
- Bibit saling bersaing nutrisi
- Batang tumbuh lebih lemah
- Penyakit lebih cepat menyebar
Jamur patogen memanfaatkan kondisi ini untuk berkembang dan menyerang tanaman secara masif.
6. Kualitas Benih yang Buruk
Benih yang sudah terinfeksi jamur atau memiliki daya tumbuh rendah lebih mudah terserang rebah semai. Bibit dari benih lemah biasanya tumbuh tidak normal dan tidak memiliki ketahanan alami yang baik.
Beberapa benih bahkan membawa patogen dari awal, sehingga penyakit muncul segera setelah perkecambahan.
7. Suhu Lingkungan yang Mendukung Patogen
Jamur penyebab rebah semai sangat menyukai suhu hangat. Di Indonesia, suhu tropis yang berkisar antara 25–30°C menjadi kondisi ideal bagi perkembangan jamur tanah.
Ketika suhu hangat berpadu dengan kelembapan tinggi, risiko rebah semai meningkat drastis.
8. Kebersihan Persemaian yang Kurang Terjaga
Persemaian yang kotor menjadi tempat berkembangnya patogen. Sisa tanaman sakit, gulma, dan alat pertanian yang tidak dibersihkan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit.
Jamur dapat bertahan di sisa akar, batang, atau tanah dalam waktu lama dan menyerang kembali saat kondisi mendukung.
Faktor Pendukung yang Memperparah Rebah Semai
Selain penyebab utama, beberapa faktor berikut juga mempercepat serangan rebah semai:
- Pencahayaan kurang
- Ventilasi udara buruk
- Kesalahan pemupukan
- Tanah terlalu asam atau terlalu padat
Jika faktor-faktor ini muncul bersamaan, risiko kegagalan persemaian semakin tinggi.
Tanda Awal Rebah Semai yang Perlu Diwaspadai
Petani dapat mengenali rebah semai melalui gejala awal berikut:
- Pangkal batang tampak basah atau berwarna cokelat
- Batang menyempit dan melemah
- Bibit layu meski tanah basah
- Bibit roboh dan mati
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Mengapa Rebah Semai Sulit Dikendalikan?
Rebah semai sulit dikendalikan karena patogennya hidup di dalam tanah. Jamur dapat bertahan lama dan menyerang kapan saja saat kondisi lingkungan mendukung.
Selain itu, banyak petani baru menyadari serangan setelah bibit roboh, saat kerusakan sudah terjadi.
Pentingnya Memahami Penyebab Rebah Semai

Dengan memahami penyebab rebah semai, petani dapat mengambil langkah pencegahan sejak awal. Pencegahan selalu lebih efektif dan murah dibandingkan pengobatan.
Pengetahuan ini juga membantu petani:
- Mengurangi risiko gagal tanam
- Menghemat biaya produksi
- Menjaga kualitas bibit
- Meningkatkan keberhasilan budidaya
Rebah semai (damping off) merupakan penyakit serius yang sering menyerang tanaman pada fase persemaian. Penyakit ini terutama disebabkan oleh jamur patogen tanah yang berkembang pesat pada kondisi lembap, drainase buruk, dan sanitasi yang rendah.
Dengan memahami penyebab utama seperti kelembapan berlebih, media tanam terkontaminasi, kepadatan bibit tinggi, serta kualitas benih yang buruk, petani dapat lebih waspada sejak awal.
Persemaian yang sehat menjadi fondasi keberhasilan budidaya tanaman. Ketika petani mampu mengendalikan faktor penyebab rebah semai, peluang panen yang optimal pun semakin terbuka. (rull)









