Alamorganik.com-Sawi pagoda semakin populer di kalangan pecinta hidroponik. Bentuknya unik, menyerupai bunga mawar yang mekar dengan susunan daun melingkar rapi. Banyak orang juga mengenalnya sebagai tatsoi. Rasanya segar, sedikit manis, dan cocok untuk tumisan, sup, maupun salad.
Kalau Anda ingin menanam sayuran yang cantik sekaligus bernilai jual tinggi, sawi pagoda bisa menjadi pilihan tepat. Tanaman ini tumbuh cepat dan sangat cocok dibudidayakan secara hidroponik karena akarnya tidak terlalu besar dan responsif terhadap nutrisi cair.
Mengenal Sawi Pagoda Lebih Dekat

Sawi pagoda (Brassica rapa var. narinosa) termasuk keluarga sawi-sawian. Tanaman ini tumbuh rendah dan membentuk roset daun kompak. Dalam kondisi optimal, sawi pagoda bisa dipanen dalam 30–40 hari setelah semai.
Karena siklus tanamnya singkat, banyak petani hidroponik memilih sawi pagoda untuk produksi rutin. Tanaman ini juga relatif tahan terhadap perubahan cuaca dibanding beberapa jenis selada.
Mengapa Memilih Sistem Hidroponik?
Menanam sawi pagoda secara hidroponik memberi banyak keuntungan:
- Menghemat lahan
- Mengontrol nutrisi lebih presisi
- Mengurangi risiko hama tanah
- Mempercepat pertumbuhan
- Menghasilkan daun lebih bersih
Hidroponik memungkinkan akar menyerap nutrisi langsung dari air. Tanaman tidak perlu “mencari makan” di tanah, sehingga energi lebih fokus pada pertumbuhan daun.
Persiapan Alat dan Bahan
Sebelum mulai, siapkan perlengkapan berikut:
1. Benih Sawi Pagoda Berkualitas
Pilih benih segar dengan tingkat perkecambahan tinggi. Benih yang baik menentukan hasil akhir.
2. Media Semai
Gunakan rockwool karena mudah menyerap air dan menjaga kelembapan.
3. Net Pot
Gunakan net pot ukuran 5–7 cm.
4. Instalasi Hidroponik
Anda bisa memilih sistem:
- Wick (sumbu) untuk pemula
- NFT (Nutrient Film Technique) untuk hasil optimal
- DFT (Deep Flow Technique) untuk skala lebih besar
5. Nutrisi AB Mix Sayuran Daun
Gunakan nutrisi khusus sayuran daun agar pertumbuhan maksimal.
6. pH Meter dan TDS Meter
Alat ini membantu mengontrol kualitas larutan nutrisi.
Langkah-Langkah Budidaya Sawi Pagoda Secara Hidroponik

1. Penyemaian Benih
Potong rockwool berbentuk kubus kecil. Basahi dengan air bersih hingga lembap. Buat lubang kecil di tengah rockwool, lalu masukkan satu benih ke setiap lubang.
Simpan semaian di tempat teduh. Jaga kelembapan media, tetapi jangan sampai terlalu basah. Dalam 2–3 hari, benih akan mulai berkecambah.
Setelah daun pertama muncul, pindahkan semaian ke tempat yang mendapat sinar matahari cukup.
2. Perawatan Bibit
Biarkan bibit tumbuh hingga memiliki 3–4 helai daun sejati. Biasanya tahap ini memakan waktu 7–10 hari.
Selama masa ini, Anda bisa memberikan nutrisi ringan dengan konsentrasi rendah (sekitar 300–500 ppm).
3. Pindah Tanam ke Sistem Hidroponik
Setelah bibit cukup kuat, pindahkan rockwool ke net pot. Letakkan net pot pada instalasi hidroponik yang sudah berisi larutan nutrisi.
Pastikan bagian bawah rockwool menyentuh larutan agar akar bisa tumbuh ke bawah.
4. Mengatur Nutrisi dan pH
Sawi pagoda membutuhkan nutrisi dengan konsentrasi sekitar 800–1200 ppm pada fase pertumbuhan.
Jaga pH larutan di kisaran 5,5–6,5. Jika pH terlalu tinggi, tambahkan larutan penurun pH. Jika terlalu rendah, tambahkan penetral.
Kontrol nutrisi secara rutin setiap 2–3 hari agar tanaman tumbuh optimal.
5. Mengatur Pencahayaan
Sawi pagoda membutuhkan cahaya matahari minimal 4–6 jam per hari. Jika Anda menanam di dalam ruangan, gunakan lampu grow light selama 10–12 jam.
Cahaya cukup akan membuat daun tumbuh tebal dan berwarna hijau segar.
6. Perawatan Harian
Lakukan langkah berikut secara konsisten:
- Cek volume air setiap hari
- Tambahkan air jika berkurang
- Ganti larutan nutrisi setiap 10–14 hari
- Bersihkan lumut pada wadah
- Buang daun yang rusak
Perawatan rutin membuat pertumbuhan stabil dan mencegah penyakit.
Tips Agar Sawi Pagoda Tumbuh Maksimal
- Gunakan air bersih bebas kaporit tinggi.
- Hindari paparan hujan langsung agar nutrisi tidak encer.
- Atur jarak tanam agar daun tidak saling menutup.
- Jaga sirkulasi udara untuk mencegah jamur.
- Panen tepat waktu agar daun tetap renyah.
Waktu Panen yang Ideal
Sawi pagoda biasanya siap panen pada usia 30–40 hari setelah semai. Anda bisa memanen dengan dua cara:
- Cabut seluruh tanaman beserta akarnya
- Potong bagian atas dan biarkan akar tumbuh kembali (jika memungkinkan)
Panen pada pagi hari agar kesegaran daun terjaga.
Mengatasi Masalah Umum
Daun Menguning
Kekurangan nitrogen sering menyebabkan daun menguning. Tambahkan nutrisi sesuai kebutuhan.
Pertumbuhan Lambat
Cek konsentrasi nutrisi dan pencahayaan. Tanaman memerlukan nutrisi cukup dan cahaya stabil.
Akar Berwarna Cokelat
Akar cokelat bisa menandakan kekurangan oksigen. Perbaiki sirkulasi air dan hindari genangan.
Estimasi Modal dan Keuntungan
Budidaya sawi pagoda secara hidroponik tidak memerlukan lahan luas. Anda bisa memulai dari skala rumahan.
Dalam satu lubang tanam, Anda bisa menghasilkan satu tanaman dengan bobot 150–250 gram. Jika dikelola dalam jumlah banyak, hasilnya cukup menjanjikan untuk dijual ke pasar modern atau restoran.
Cocok untuk Pemula dan Skala Komersial

Sawi pagoda termasuk tanaman yang mudah dirawat. Siklus tanamnya cepat, sehingga cocok bagi pemula yang ingin belajar hidroponik.
Bagi pelaku usaha, tanaman ini juga memiliki nilai jual lebih tinggi karena tampilannya menarik dan belum banyak pesaing.
Budidaya sawi pagoda secara hidroponik memberikan banyak keuntungan. Anda bisa mengontrol nutrisi dengan presisi, menghemat lahan, dan menghasilkan sayuran segar tanpa kotoran tanah.
Kunci keberhasilan terletak pada konsistensi. Anda perlu rutin memeriksa nutrisi, menjaga pH, dan memastikan tanaman mendapat cahaya cukup. Jika Anda disiplin merawatnya, sawi pagoda akan tumbuh kompak, hijau, dan siap panen dalam waktu singkat.
Dengan langkah yang tepat, halaman rumah, rooftop, atau sudut dapur bisa berubah menjadi kebun kecil yang produktif. Hidroponik bukan sekadar tren, tetapi solusi cerdas untuk memenuhi kebutuhan sayur sehat setiap hari. (rull)









