Alamorganik.com-Padi varietas Inpari 32 di sejumlah daerah menghadapi masalah saat memasuki fase generatif. Tanaman sudah menunjukkan tanda-tanda masuk masa pembentukan bulir, tetapi prosesnya berhenti dan malai tidak berkembang secara optimal.
Petani di beberapa wilayah, termasuk Pati dan Lampung, menyebut kondisi tersebut dengan istilah mogol atau mbegegek. Sebagian petani juga mengaitkannya dengan istilah morek, yaitu anggapan bahwa benih atau varietas sudah mengalami penurunan kualitas setelah terlalu lama digunakan.
Namun, penyebab padi gagal membentuk bulir tidak bisa langsung dikaitkan dengan umur varietas. Banyak faktor dapat memengaruhi pembentukan malai dan bulir, mulai dari mutu benih, kondisi tanah, pemupukan, air, serangan hama dan penyakit, hingga kondisi cuaca.
Mutu Benih Jadi Perhatian
Sebagian petani menduga masalah bermula dari kualitas benih. Benih dengan mutu rendah dapat menghasilkan pertumbuhan tanaman yang kurang seragam dan memengaruhi perkembangan tanaman hingga fase generatif.
Karena itu, petani perlu memilih benih bermutu dan memastikan benih memiliki daya tumbuh yang baik sebelum masuk musim tanam.
Petani juga perlu memperhatikan pemupukan dan pengelolaan air sejak fase awal. Tanaman membutuhkan nutrisi yang seimbang agar dapat tumbuh dan memasuki fase generatif dengan baik.
Petani Mencoba Nlevel1 Aktivasi 6
Di tengah persoalan tersebut, sebagian petani mencoba memberikan perlakuan Nlevel1 Aktivasi 6 pada benih Inpari 32 sebelum proses penyemaian atau penanaman.
Praktik tersebut dilakukan dengan menyemprotkan larutan secara tipis pada benih. Petani yang menggunakan metode ini mengklaim perlakuan tersebut dapat membantu benih tumbuh lebih baik.
Klaim serupa juga muncul pada penggunaan Nlevel1 Aktivasi 6 terhadap benih padi yang sudah lama tersimpan serta benih bawang merah setelah panen. Namun, pengalaman tersebut merupakan laporan praktik lapangan dan belum cukup untuk membuktikan bahwa perlakuan tersebut mampu mengatasi masalah pembentukan bulir.
Perlu Uji Lapangan
Petani yang ingin mencoba perlakuan tersebut sebaiknya melakukan pengujian dalam skala kecil terlebih dahulu. Petani dapat membandingkan benih yang mendapat perlakuan dengan benih tanpa perlakuan.
Pengujian sederhana seperti ini dapat membantu petani melihat perbedaan pertumbuhan secara lebih objektif. Catat juga kondisi benih, umur simpan, daya tumbuh, kondisi tanah, pemupukan, pengairan, serta perkembangan tanaman hingga fase generatif.
Jika Inpari 32 mengalami masalah tidak membentuk bulir, petani sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa varietas tersebut sudah morek. Pemeriksaan kondisi tanaman dan lingkungan perlu dilakukan untuk mencari penyebab yang lebih tepat.
Dengan mengenali penyebab sejak awal, petani dapat menentukan langkah budidaya yang lebih sesuai dan mengurangi risiko kerugian pada musim tanam berikutnya. (rull/3GO)









