Krisis Regenerasi Petani, 3GO Nasional Dorong Pemberdayaan dan Teknologi Saka

- Penulis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 20:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, alamorganik. com – Indonesia tengah menghadapi situasi genting dalam sektor pertanian: regenerasi petani nyaris mandek. Menurut data Sensus Pertanian 2023 dari BPS, proporsi tenaga kerja pertanian yang berumur 45 tahun ke atas mencapai sekitar 58 persen, menunjukkan tren penuaan yang nyata di sektor ini. (Antara News)

Fenomena ini selaras dengan fakta bahwa petani muda usia 19-39 tahun hanya sekitar 21,93 persen dari total pengelola usaha pertanian perorangan. (Badan Pusat Statistik Indonesia) Modelnya: dari tiga petani, dua di antaranya cenderung sudah berusia lanjut. Jika tak ada langkah cepat, pada suatu masa regenerasi pertanian bisa kandas.

Baca Juga :  Tanaman Bisa “Kebal”? Ini Rahasia Biosaka dengan Daun Pegagan

Ferieny, pengurus 3GO Nasional, menyikapi kondisi ini dengan tegas. Baginya, memberdayakan petani bukan sekadar memberi bantuan — tetapi mencerdaskan mereka agar menjadi pelaku utama perubahan. “Kasihan kalau pemberdayaan petani hanya menjadikan mereka objek. Sudah saatnya petani dicerdaskan agar mampu mandiri,” ujarnya.

Untuk itu, komunitas 3GO tak sekadar berkampanye — mereka menginisiasi pelatihan teknologi Saka agar petani bisa mengelola sarana produksi (saprodi) sendiri, dan tidak tergantung pada pihak luar. Dengan demikian, petani diharapkan tumbuh menjadi pelopor inovasi di tingkat lokal.

Baca Juga :  3GO Bagi-bagi Nlevel 1 A6 Gratis di Pati

Penekanan Ferieny: profesi petani kini dalam fase kritis. Tanpa generasi muda dan akses teknologi, pertanian nasional bisa kehilangan daya tahan. “Kita perlu menjadikan petani sebagai subjek pembangunan, bukan objek,” tegasnya.

Dengan dukungan data BPS ini, 3GO ingin menyerukan agar seluruh elemen – pemerintah, akademisi, masyarakat – ikut berperan dalam regenerasi petani. Hanya petani yang cerdas, mandiri, dan berkualitas yang mampu menjaga masa depan pangan bangsa. (al)

 

Berita Terkait

Testimoni Relawan Pak Dwi Dampingi Pemulihan Stroke dengan Teknologi SAKA
Kisah Bu Tri Cahyani Mengurangi Nyeri Plantar Fasciitis dengan Terapi Biosaka
Ibu Ferieny dan Komunitas 3GO Nasional Bagikan N Level 1 di Pati
Bupati Tulungagung Tinjau GH Melon Biosaka, Gerakan SAKA Kian Menggema di Kalangan Petani
Tanpa Disadari, Pestisida dan Mikroplastik Kini Masuk ke Pangan yang Kita Konsumsi
Rahasia Lahan Cepat Subur: Perpaduan RR, Kohe, dan Biosaka yang Mulai Dibuktikan Sains
Rahasia Daun dan Buah Pace untuk BIOSAKA, Warisan Herbal yang Mulai Dijelaskan Sains
Tanaman Bisa “Kebal”? Ini Rahasia Biosaka dengan Daun Pegagan

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:02 WIB

Testimoni Relawan Pak Dwi Dampingi Pemulihan Stroke dengan Teknologi SAKA

Jumat, 29 Mei 2026 - 18:02 WIB

Kisah Bu Tri Cahyani Mengurangi Nyeri Plantar Fasciitis dengan Terapi Biosaka

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:02 WIB

Ibu Ferieny dan Komunitas 3GO Nasional Bagikan N Level 1 di Pati

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:02 WIB

Bupati Tulungagung Tinjau GH Melon Biosaka, Gerakan SAKA Kian Menggema di Kalangan Petani

Senin, 18 Mei 2026 - 12:02 WIB

Tanpa Disadari, Pestisida dan Mikroplastik Kini Masuk ke Pangan yang Kita Konsumsi

Berita Terbaru