Alamorganik.com-Perdebatan soal teknologi pertanian Biosaka kembali mencuat. Seorang relawan lapangan menyebut sebagian kritik terhadap Biosaka muncul terlalu dini dan tidak melalui riset mendalam.
Ia menilai sejumlah pihak yang menolak Biosaka justru memiliki afiliasi tertentu. “Saya melihat ada kepentingan di balik beberapa penolakan. Mereka menyimpulkan tanpa benar-benar memahami atau meneliti langsung,” ujarnya.
Relawan tersebut mencontohkan beberapa tokoh yang vokal mengkritik Biosaka. Ia menyebut ada mantan pejabat di sektor serealia yang pernah terlibat kasus pupuk palsu, pejabat kementerian yang memiliki usaha pupuk organik, hingga akademisi yang menurutnya belum berdiskusi langsung dengan penggagas Biosaka.
Menurutnya, sebagian kritik disampaikan tanpa dialog terbuka atau pemahaman utuh tentang asal-usul dan konsep Biosaka. “Bagaimana bisa menyimpulkan kalau belum benar-benar mengenal atau berdiskusi langsung?” katanya.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa gerakan Biosaka berkembang dari bawah, digerakkan oleh petani dan relawan. Mereka mengaku fokus pada kepentingan pertanian nasional, bukan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.
Relawan tersebut juga mengungkapkan bahwa pelatihan Biosaka terus berjalan dan menarik minat berbagai kalangan. Pada kegiatan terakhir, peserta tidak hanya berasal dari petani, tetapi juga akademisi, generasi muda, hingga kalangan profesional.
“Antusiasme cukup tinggi. Bahkan ada tokoh dari kalangan perbankan yang sudah purna tugas ikut hadir. Komposisinya sekitar 50 persen petani dan 50 persen masyarakat umum,” jelasnya.
Ia berharap pelatihan berikutnya dapat menghadirkan lebih banyak pihak, termasuk tokoh penggagas biosa bapak muhammad anshar, agar pemahaman tentang Biosaka semakin luas dan tidak lagi menimbulkan polemik berkepanjangan. (rull/ 3G O)









