Alamorganik.com-Kotoran hewan sejak lama menjadi salah satu sumber bahan organik terbaik untuk memperbaiki kesuburan tanah. Banyak petani memanfaatkannya sebagai pupuk dasar karena mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Namun, penggunaan kotoran hewan yang belum matang sering menimbulkan berbagai masalah, mulai dari munculnya bau menyengat hingga potensi penyebaran patogen yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Karena itu, petani perlu mengolah kotoran hewan terlebih dahulu melalui proses fermentasi sebelum mengaplikasikannya ke lahan. Salah satu metode yang cukup sederhana dan banyak diterapkan di lapangan adalah Kompos By Mulyanto. Formula ini memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh serta teknik fermentasi yang dapat dilakukan oleh siapa saja, baik petani skala kecil maupun skala besar.
Metode ini menawarkan dua pilihan pembuatan. Cara pertama menggunakan probiotik untuk mempercepat proses fermentasi, sedangkan cara kedua mengandalkan kombinasi kotoran ternak dan pupuk nitrogen seperti urea atau NPK. Keduanya bertujuan menghasilkan pupuk organik yang lebih matang, lebih aman, dan lebih bermanfaat bagi tanaman.
Mengapa Kotoran Hewan Perlu Difermentasi?

Banyak petani langsung menggunakan kotoran hewan segar karena ingin menghemat waktu. Padahal, langkah tersebut dapat menimbulkan sejumlah risiko bagi tanaman.
Kotoran yang belum matang masih mengalami proses penguraian. Saat proses tersebut berlangsung di dalam tanah, mikroorganisme akan menggunakan unsur nitrogen yang sebenarnya dibutuhkan tanaman. Akibatnya, tanaman bisa mengalami kekurangan nutrisi pada fase awal pertumbuhan.
Selain itu, kotoran segar juga berpotensi membawa bibit penyakit, telur cacing, bakteri merugikan, serta biji gulma yang masih aktif. Jika petani melakukan fermentasi terlebih dahulu, proses tersebut dapat menekan berbagai organisme yang tidak diinginkan sekaligus meningkatkan kualitas pupuk.
Fermentasi juga membantu mengubah bahan organik menjadi lebih mudah diserap oleh tanaman. Dengan kata lain, tanaman tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan manfaat dari pupuk yang diberikan.
Bahan-Bahan Kompos By Mulyanto Cara I
Metode pertama menggunakan bantuan probiotik sebagai aktivator fermentasi.
Bahan yang perlu disiapkan antara lain:
- Kotoran sapi, kambing, ayam, puyuh, atau kuda sebanyak 200 kilogram.
- Urea atau NPK sebanyak 0,5 hingga 1 kilogram.
- Tetes tebu atau molase sebanyak 1,5 liter.
- Gula pasir sebanyak 0,5 kilogram sebagai alternatif jika tidak tersedia molase.
- Probiotik sebanyak satu gelas air mineral ukuran sedang.
- Air bersih sebanyak 20 hingga 30 liter.
- Sekam padi secukupnya jika tersedia.
Seluruh bahan tersebut bekerja sama untuk mempercepat aktivitas mikroorganisme selama proses fermentasi berlangsung.
Fungsi Setiap Bahan
Kotoran Hewan
Kotoran hewan menjadi bahan utama dalam pembuatan kompos ini. Setiap jenis kotoran memiliki karakteristik yang berbeda.
Kotoran sapi biasanya memiliki kandungan serat yang tinggi dan cocok untuk memperbaiki struktur tanah. Kotoran kambing mengandung unsur hara yang relatif lebih pekat. Sementara itu, kotoran ayam dan puyuh terkenal kaya nitrogen yang dapat mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman.
Urea atau NPK
Urea dan NPK berfungsi sebagai tambahan sumber nutrisi sekaligus membantu mempercepat aktivitas mikroorganisme selama fermentasi.
Nitrogen yang terkandung di dalamnya membantu proses penguraian bahan organik berlangsung lebih cepat.
Molase atau Gula
Molase menyediakan sumber energi bagi mikroorganisme. Kandungan gula yang tinggi membuat populasi mikroba berkembang lebih cepat sehingga proses fermentasi menjadi lebih efektif.
Jika petani kesulitan mendapatkan molase, gula pasir dapat menjadi alternatif yang cukup baik.
Probiotik
Probiotik berisi berbagai mikroorganisme menguntungkan yang membantu menguraikan bahan organik.
Semakin banyak mikroorganisme yang aktif, semakin cepat pula proses fermentasi berlangsung. Karena itu, banyak praktisi pertanian organik menyebut bahwa penambahan probiotik dalam jumlah lebih banyak biasanya menghasilkan fermentasi yang lebih baik.
Sekam Padi
Sekam membantu memperbaiki tekstur kompos dan meningkatkan porositas bahan fermentasi.
Selain itu, sekam juga membantu menjaga keseimbangan kelembapan selama proses berlangsung.
Cara Membuat Kompos By Mulyanto Cara I
Pembuatan kompos metode pertama tergolong sederhana dan tidak membutuhkan peralatan khusus.
Langkah pertama, campurkan urea atau NPK dengan molase atau gula ke dalam 20 hingga 30 liter air bersih.
Aduk larutan hingga seluruh bahan larut sempurna.
Setelah itu, tambahkan probiotik ke dalam larutan lalu aduk kembali hingga merata.
Selanjutnya, siapkan kotoran hewan di atas terpal atau lantai kerja yang bersih.
Siramkan larutan aktivator sedikit demi sedikit sambil mengaduk kotoran hingga tercampur merata.
Jika tersedia sekam padi, petani dapat menambahkannya pada tahap ini.
Pastikan adonan memiliki kelembapan yang cukup. Bahan harus terasa lembap saat digenggam, tetapi tidak mengeluarkan air ketika diperas.
Jangan membuat campuran terlalu basah karena kondisi tersebut dapat menghambat proses fermentasi. Sebaliknya, bahan yang terlalu kering juga akan memperlambat perkembangan mikroorganisme.
Pilihan Wadah Fermentasi

Petani dapat memilih beberapa metode fermentasi sesuai kondisi di lapangan.
Menggunakan Drum
Masukkan campuran bahan ke dalam drum secara bertahap.
Padatkan secukupnya lalu tutup rapat agar proses fermentasi berlangsung optimal.
Menggunakan Karung
Masukkan bahan ke dalam karung hingga penuh.
Setelah itu, padatkan dan ikat karung dengan rapat.
Metode ini banyak digunakan karena praktis dan tidak memerlukan tempat khusus.
Menggunakan Gundukan di Tanah
Buat gundukan bahan di atas tanah.
Setelah selesai, tutup menggunakan terpal lalu beri pemberat berupa batu bata atau tanah agar terpal tidak terbuka.
Menggunakan Lubang Tanah
Petani juga dapat memanfaatkan lubang tanah sebagai tempat fermentasi.
Metode ini membantu menjaga kestabilan suhu selama proses berlangsung.
Apa pun metode yang dipilih, petani harus menempatkan bahan fermentasi di lokasi yang teduh dan terlindung dari hujan.
Masa Fermentasi
Fermentasi biasanya berlangsung selama dua minggu.
Selama periode tersebut, mikroorganisme akan menguraikan bahan organik secara bertahap hingga menjadi kompos yang lebih matang.
Setelah dua minggu, warna bahan biasanya berubah menjadi lebih gelap, teksturnya lebih remah, dan aroma menyengat mulai berkurang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk sudah siap digunakan.
Kompos By Mulyanto Cara II
Selain menggunakan probiotik, petani juga dapat membuat pupuk dasar dengan metode kedua yang lebih sederhana.
Metode ini hanya membutuhkan dua bahan utama, yaitu:
- Kotoran sapi, kambing, ayam, puyuh, atau kuda sebanyak 200 kilogram.
- Urea atau NPK sebanyak 1 hingga 2 kilogram.
Walaupun lebih sederhana, metode ini tetap mampu menghasilkan pupuk yang berkualitas jika petani menjalankan prosesnya dengan benar.
Cara Membuat Kompos Cara II
Petani dapat menggunakan drum, karung, hamparan tanah, atau lubang galian sebagai media fermentasi.
Jika menggunakan drum atau karung, masukkan lapisan pertama kotoran hewan dengan ketebalan sekitar 5 hingga 10 sentimeter.
Setelah itu, taburkan urea atau NPK secara merata di atas permukaan kotoran.
Tambahkan lagi lapisan kotoran dengan ketebalan yang sama.
Taburkan kembali urea atau NPK.
Lanjutkan proses tersebut secara berulang hingga wadah penuh.
Setelah selesai, tutup rapat wadah fermentasi dan biarkan selama dua minggu.
Fermentasi di Atas Tanah
Jika petani memilih membuat kompos di atas tanah, pilih lokasi yang teduh dan tidak terkena hujan secara langsung.
Hamparkan kotoran hewan setebal sekitar 10 sentimeter.
Taburkan urea atau NPK secara merata.
Tambahkan lagi lapisan kotoran dengan ketebalan yang sama.
Ulangi proses tersebut hingga seluruh bahan habis.
Setelah selesai, tutup menggunakan terpal selama dua minggu.
Fermentasi Menggunakan Lubang Tanah
Metode ini hampir sama dengan fermentasi di atas permukaan tanah.
Petani hanya perlu membuat lubang dengan ukuran yang sesuai kebutuhan.
Hamparkan lapisan pertama kotoran hewan setebal sekitar 10 sentimeter.
Taburkan urea atau NPK secara merata.
Tambahkan lapisan kotoran berikutnya dan ulangi proses hingga seluruh bahan habis.
Setelah selesai, tutup lubang dengan rapat dan biarkan proses fermentasi berlangsung selama dua minggu.
Keunggulan Kompos By Mulyanto
Metode ini memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya banyak diminati petani.
Pertama, bahan-bahannya mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Kedua, proses pembuatannya relatif sederhana sehingga cocok untuk pemula.
Ketiga, biaya produksinya cukup rendah dibandingkan membeli pupuk organik dalam jumlah besar.
Keempat, pupuk hasil fermentasi membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme menguntungkan.
Kelima, penggunaan rutin dapat meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara.
Selain itu, petani juga dapat memanfaatkan limbah peternakan yang sebelumnya kurang bernilai menjadi pupuk yang bermanfaat untuk budidaya tanaman.
Penutup

Kompos By Mulyanto menawarkan solusi praktis bagi petani yang ingin menghasilkan pupuk organik berkualitas dari kotoran hewan. Dengan memanfaatkan bahan sederhana dan proses fermentasi yang relatif mudah, petani dapat memperoleh pupuk yang lebih matang, lebih aman, dan lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan tanaman.
Baik menggunakan metode probiotik maupun metode pelapisan dengan urea atau NPK, keduanya sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas bahan organik sebelum petani mengaplikasikannya ke lahan. Jika petani menjalankan proses fermentasi dengan benar, pupuk yang dihasilkan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendukung produktivitas tanaman secara berkelanjutan. (rull/TOA)









