Home / POP

Kompos++ Punokawan Jadi Andalan Petani, Tanah Lebih Subur dan Hasil Panen Meningkat

- Penulis

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alamorganik.com-Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak petani yang beralih ke penggunaan pupuk organik untuk menjaga kesehatan tanah dan meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan. Salah satu formula yang banyak petani bagikan adalah Kompos++ by Punokawan, yaitu pupuk organik hasil fermentasi yang menggabungkan berbagai unsur hara, mikroorganisme bermanfaat, dan bahan organik berkualitas dalam satu formula.

Pengembang Kompos++ menciptakan formula ini untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, menyediakan nutrisi bagi tanaman, sekaligus membantu petani menekan serangan hama dan penyakit. Petani dapat memperoleh bahan-bahannya dengan mudah, kemudian meracik dan menggunakan pupuk ini secara mandiri untuk berbagai jenis tanaman.

Mengenal Kompos++ Punokawan

Pengembang Kompos++ mengembangkan kompos biasa dengan menambahkan pupuk anorganik, mikroorganisme lokal, agen hayati, serta berbagai bahan organik bernilai tinggi. Mereka mengombinasikan berbagai komponen tersebut untuk menghasilkan pupuk yang lebih lengkap dibandingkan kompos konvensional.

Selain berfungsi sebagai sumber unsur hara, Kompos++ juga membantu meningkatkan populasi mikroorganisme baik di dalam tanah. Mikroorganisme ini berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi, serta menjaga keseimbangan ekosistem tanah.

Dengan penggunaan yang tepat, petani dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.

Bahan-Bahan yang Dibutuhkan

sumber foto: chatgpt.com

Untuk membuat Kompos++ Punokawan, siapkan bahan-bahan berikut:

  • Petroganik sebanyak 6 sak.
  • Ponska, TSP, atau dolomit sebanyak 50 kilogram.
  • Urea sebanyak 5–10 kilogram.
  • MOL lengkap (Mikroorganisme Lokal) sebanyak 1 liter.
  • Agen hayati lengkap berbasis Trichoderma sebanyak 1 liter.
  • Molase sebanyak 1 liter.
  • Jus ikan dan bekatul secukupnya.
  • Ampas tahu secukupnya.
  • Ampas jamu secukupnya.
  • Air secukupnya.

Kombinasi bahan tersebut menghasilkan pupuk yang kaya unsur makro, unsur mikro, bahan organik, serta mikroorganisme yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Fungsi Masing-Masing Bahan

1. Petroganik

Petroganik menjadi bahan utama dalam formula ini. Pupuk organik ini mengandung bahan organik yang membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, dan mendukung perkembangan akar tanaman.

2. Ponska, TSP, atau Dolomit

Ponska dan TSP berfungsi sebagai sumber unsur hara penting seperti fosfor dan kalium. Jika menggunakan dolomit, bahan ini membantu meningkatkan pH tanah yang terlalu asam sekaligus menyediakan unsur kalsium dan magnesium.

3. Urea

Urea menyediakan unsur nitrogen yang berperan penting dalam pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama untuk pembentukan daun dan batang.

4. MOL Lengkap

MOL atau Mikroorganisme Lokal mengandung berbagai jenis bakteri dan mikroba yang berasal dari lingkungan sekitar. Mikroorganisme ini membantu mempercepat proses fermentasi serta meningkatkan aktivitas biologis tanah.

Menurut banyak praktisi pertanian organik, MOL lokal sering kali memiliki daya adaptasi yang lebih baik karena berasal dari lingkungan yang sama dengan lokasi budidaya.

Baca Juga :  Tanaman Juga Butuh Skincare: Mengenal Biosaka untuk Tanaman Sehat dan Produktif

5. Agen Hayati Trichoderma

Trichoderma merupakan jamur menguntungkan yang banyak digunakan dalam pertanian organik. Mikroorganisme ini mampu menekan perkembangan berbagai patogen penyebab penyakit tanaman yang hidup di dalam tanah.

Selain itu, Trichoderma juga membantu mempercepat penguraian bahan organik sehingga unsur hara lebih cepat tersedia bagi tanaman.

6. Molase

Molase berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroorganisme selama proses fermentasi berlangsung. Kandungan gula di dalam molase membantu mempercepat perkembangan populasi bakteri dan jamur yang menguntungkan.

7. Jus Ikan dan Bekatul

Jus ikan mengandung protein, asam amino, dan berbagai unsur mikro yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Sementara itu, bekatul menyediakan nutrisi tambahan yang mendukung aktivitas mikroorganisme selama fermentasi.

8. Ampas Tahu

Ampas tahu kaya akan bahan organik dan protein yang dapat menjadi sumber makanan bagi mikroba fermentasi.

9. Ampas Jamu

Ampas jamu mengandung berbagai senyawa alami yang dapat mendukung kesehatan tanah sekaligus memperkaya kandungan bahan organik dalam pupuk.

Cara Membuat Kompos++ Punokawan

sumber foto: i0.wp.com

Proses pembuatan Kompos++ cukup sederhana dan dapat dilakukan di tingkat petani.

Langkah 1: Menyiapkan Tempat Fermentasi

Siapkan area yang teduh dan terlindung dari hujan langsung. Gunakan alas terpal agar bahan tidak bercampur dengan tanah.

Langkah 2: Mencampur Bahan Kering

Campurkan Petroganik, Ponska atau TSP atau dolomit, serta urea hingga merata. Pastikan seluruh bahan tercampur dengan baik agar distribusi unsur hara menjadi lebih merata.

Langkah 3: Menyiapkan Larutan Aktivator

Campurkan MOL lengkap, agen hayati Trichoderma, molase, serta air secukupnya dalam wadah terpisah.

Aduk hingga semua bahan larut secara merata.

Langkah 4: Menambahkan Bahan Organik

Masukkan jus ikan, bekatul, ampas tahu, dan ampas jamu ke dalam campuran bahan kering.

Setelah itu, siramkan larutan aktivator sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kelembapan merata.

Langkah 5: Mengatur Kelembapan

Petani dapat mengenali kelembapan yang ideal saat bahan terasa lembap ketika digenggam, tetapi tidak mengeluarkan air saat diperas.

Kondisi ini penting agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal.

Langkah 6: Fermentasi

Tutup tumpukan bahan menggunakan terpal.

Selama proses fermentasi berlangsung, perhatikan suhu tumpukan. Suhu sebaiknya tidak melebihi 40 derajat Celsius. Jika suhu terlalu tinggi, buka terpal sementara atau lakukan pembalikan bahan untuk menurunkan suhu.

Proses ini bertujuan menjaga kehidupan mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi.

Langkah 7: Pendinginan dan Pengeringan

Setelah proses fermentasi selesai dan suhu kembali normal, buka terpal dan angin-anginkan kompos.

Langkah ini membantu menstabilkan hasil fermentasi sebelum pupuk digunakan atau disimpan.

Cara Penggunaan di Lapangan

Kompos++ Punokawan dapat diaplikasikan dengan beberapa metode sesuai kebutuhan tanaman.

Baca Juga :  Vibrasi Energi Seri 1: Mengenal Pukim, Pukor, dan Filosofi Biosaka

1. Sebagai Pupuk Tabur

Untuk aplikasi tabur, gunakan satu kali dosis untuk kebutuhan lahan sekitar satu hektare.

Sebarkan pupuk secara merata di area pertanaman sebelum tanam atau pada fase pertumbuhan tanaman.

2. Sebagai Pupuk Kocor

Larutkan 1 kilogram Kompos++ ke dalam 5 liter air.

Diamkan larutan hingga seluruh bahan tercampur dengan baik, kemudian encerkan dengan perbandingan 1:20 dan kocorkan ke area perakaran tanaman.

Metode ini membantu tanaman menyerap unsur hara lebih cepat melalui zona akar.

3. Sebagai Pupuk Semprot

Gunakan satu gelas air mineral ukuran sedang untuk satu tangki semprot.

Aplikasi melalui daun memungkinkan tanaman memperoleh nutrisi tambahan sekaligus memperkenalkan mikroorganisme bermanfaat ke lingkungan tanaman.

Keunggulan Kompos++ Punokawan

sumber foto: blogger.googleusercontent.com

Formula ini memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya menarik bagi petani.

Pertama, kandungan unsur haranya relatif lengkap karena menggabungkan pupuk organik dan anorganik.

Kedua, keberadaan MOL dan Trichoderma membantu meningkatkan kehidupan biologis tanah.

Ketiga, bahan-bahan seperti jus ikan, ampas tahu, dan ampas jamu menambah kekayaan nutrisi organik yang bermanfaat bagi tanaman.

Keempat, biaya pembuatannya relatif terjangkau karena sebagian besar bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Kelima, penggunaan rutin dapat membantu memperbaiki struktur tanah yang mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

MOL Lokal dan Agen Hayati, Mengapa Penting?

Dalam formula ini, penggunaan MOL lokal dan agen hayati menjadi salah satu faktor utama keberhasilan fermentasi.

MOL lokal biasanya mengandung beragam mikroorganisme yang sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat. Karena itu, aktivitasnya cenderung lebih stabil ketika diaplikasikan di lahan.

Sementara itu, agen hayati seperti Trichoderma berfungsi sebagai pelindung alami tanaman dari berbagai penyakit yang berasal dari tanah.

Sebagian petani memang memilih produk pabrikan seperti EM4 untuk mendukung proses fermentasi. Petani tetap dapat menggunakan produk tersebut sesuai kebutuhan. Namun, sejumlah praktisi pertanian organik menilai bahwa MOL lokal sering memiliki keragaman mikroba yang lebih tinggi sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman.

Kompos++ Punokawan merupakan salah satu inovasi sederhana yang menggabungkan kekuatan bahan organik, unsur hara, mikroorganisme lokal, dan agen hayati dalam satu formula. Dengan proses fermentasi yang tepat, pupuk ini dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki kesehatan tanaman, dan mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.

Bagi petani yang ingin mengurangi biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lahan dalam jangka panjang, Kompos++ dapat menjadi pilihan yang layak untuk dicoba. Kunci keberhasilannya terletak pada kualitas bahan, ketepatan proses fermentasi, serta konsistensi penggunaan di lapangan. (rull/TOA)

Berita Terkait

Dari Bau Menyengat Jadi Pupuk Premium, Ini Rahasia Fermentasi Kohe Super Cepat
Tanah Keras Jadi Gembur dalam Waktu Singkat? Coba Bokashi Pupuk Kandang Arang Ini
Cara Membuat Bokashi Pupuk Kandang Cepat Jadi, Hasilnya Bikin Tanaman Melejit
Bokashi Jerami Jadi Andalan Petani, Tanaman Lebih Hijau dan Hasil Panen Meningkat
Tanah Keras Jadi Gembur! Ini Kehebatan Pupuk Organik Bokashi
Pupuk Organik Padat (POP): Cara Alami Bikin Tanah Super Subur dan Produktif

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:02 WIB

Kompos++ Punokawan Jadi Andalan Petani, Tanah Lebih Subur dan Hasil Panen Meningkat

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:02 WIB

Dari Bau Menyengat Jadi Pupuk Premium, Ini Rahasia Fermentasi Kohe Super Cepat

Jumat, 15 Mei 2026 - 22:02 WIB

Tanah Keras Jadi Gembur dalam Waktu Singkat? Coba Bokashi Pupuk Kandang Arang Ini

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:02 WIB

Cara Membuat Bokashi Pupuk Kandang Cepat Jadi, Hasilnya Bikin Tanaman Melejit

Rabu, 13 Mei 2026 - 18:02 WIB

Bokashi Jerami Jadi Andalan Petani, Tanaman Lebih Hijau dan Hasil Panen Meningkat

Berita Terbaru