Alamorganik.com – Farid, petani asal Kabupaten Pati, membagikan pengalamannya menanam cabai merah dengan teknologi SAKA. Menurutnya, tanaman cabai di lahannya tetap produktif hingga berusia sekitar tujuh bulan.
Farid mulai menanam cabai pada 22–28 November 2025. Selama masa budidaya, ia hanya menggunakan pupuk cair rendaman rumput (RR) dan Biosaka. Ia menyemprotkan keduanya secara rutin setiap satu minggu sekali.
Sekitar masa pertumbuhan, banjir merendam lahan cabainya selama kurang lebih 10 hari. Meski demikian, tanaman tetap bertahan dan kembali menghasilkan panen.
Farid memulai panen pada akhir Februari 2026 dengan hasil sekitar 3–5 kilogram. Selanjutnya, ia memanen cabai setiap tiga hingga empat hari sekali. Dalam setiap panen, ia memperoleh hasil sekitar 20–30 kilogram.
Farid mengelola lahan seluas sekitar 1.900 meter persegi. Ia menanam sekitar 2.300 batang cabai. Selain itu, ia juga membudidayakan bawang dayak dan mulai menanam tomat di sela-sela tanaman cabai.
Menurut Farid, pemberian RR dan Biosaka secara rutin membantu menjaga pertumbuhan tanaman sehingga cabai tetap berproduksi. Namun, ia menyampaikan pengalaman tersebut sebagai testimoni berdasarkan praktik budidaya di lahannya.
Sampai saat ini, para peneliti belum memiliki bukti ilmiah yang cukup untuk memastikan bahwa RR dan Biosaka secara langsung membuat tanaman cabai lebih tahan banjir atau tetap produktif hingga usia tertentu. Keberhasilan budidaya juga bergantung pada varietas, kondisi tanah, cuaca, pemupukan, pengendalian hama, dan teknik budidaya yang diterapkan petani. (rull/komunitas biosaka)









