Ansar Uraikan Filosofi Algoritma 369 Humanity, Kaitkan Bunga, Al-Qur’an, dan Kesadaran Manusia

- Penulis

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alamorganik.com-Konsep Algoritma 369 Humanity (A369H) menggabungkan filosofi bunga, penafsiran ayat Al-Qur’an, pola angka, dan kesadaran manusia. M. Ansar menjelaskan konsep ini dalam kelas lanjutan dengan mengaitkannya pada gerakan Saka dan Nlevel 1.

Ansar menyebut semakin banyak orang mulai membuat A369H. Namun, sebagian masih kesulitan menentukan bunga yang memenuhi kriteria paripurna atau kondisi terbaik menurut konsep tersebut.

Dalam pemaparannya, ia membagi filosofi A369H ke dalam tiga bagian utama, yakni hubungan ayat dan filosofi, pola matematika, serta metode pembalikan angka.

Surah An-Nahl Menjadi Dasar Filosofi Bunga

Ansar menghubungkan Surah An-Nahl ayat 69 tentang lebah dengan ayat 78 yang membahas manusia. Ia menafsirkan angka 69 sebagai simbol keseimbangan Yin-Yang, energi yang disebut Chi, dan siklus perputaran orbit semesta.

Ia juga menyoroti peran lebah dalam menghasilkan madu dan membawa bahan dari bunga. Menurut pemikirannya, lebah menggambarkan keseimbangan alam melalui aktivitasnya.

Selanjutnya, Ansar mengaitkan Surah An-Nahl ayat 78 dengan tiga kemampuan manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati. Ia menyandingkan ketiganya dengan filosofi Jawa yang ia sebut cipta, rasa, dan karsa.

Ansar kemudian menggunakan bunga sebagai simbol pengembangan kesadaran. Ia menggambarkan tiga kelopak bunga sebagai lambang pendengaran, penglihatan, dan hati. Manusia dapat mendengar pujian terhadap bunga, melihat keindahannya, lalu merasakan ketertarikan terhadap bunga tersebut.

Dari pemaknaan itu, Ansar menyebut A3 sebagai simbol pengembangan kesadaran melalui keindahan alam. Ia juga mengaitkan keindahan dan kegembiraan dengan pengalaman batin yang dapat memberikan ketenangan.

Namun, penafsiran tersebut merupakan bagian dari filosofi A369H. Gagasan itu tidak otomatis membuktikan bahwa bunga atau formulasi A369H dapat mengobati penyakit.

Ansar Menjelaskan Pola Angka 6, 7, 8, dan 9

Selain membahas filosofi bunga, Ansar menyusun pola angka untuk menjelaskan konsep A369H. Ia memulai perhitungannya dengan menjumlahkan angka yang merujuk pada ayat-ayat tertentu.

Dalam skema tersebut, angka 6 ditambah 9 menghasilkan 15. Angka 7 ditambah 8 juga menghasilkan 15. Kemudian, ia menjumlahkan kedua hasil tersebut hingga memperoleh angka 30.

Ansar turut menggunakan deret 6, 7, 8, dan 9. Penjumlahan keempat angka itu menghasilkan 30, yang kemudian ia hubungkan dengan Surah Ar-Rum ayat 30 tentang fitrah manusia.

Baca Juga :  Petani Rantau Rasau Buktikan Manfaat N Level 1, Alternatif Pembenah Tanah yang Ramah Lingkungan

Ia juga mengaitkan angka 15 dengan Surah Al-Hijr ayat 15, serta menyebut Surah Al-An’am ayat 7 dan Surah Al-A’raf ayat 8 dalam penafsirannya mengenai penglihatan dan keseimbangan.

Melalui rangkaian tersebut, Ansar mencoba menjelaskan hubungan antara angka, ayat, dan kesadaran manusia. Ia juga menghubungkan pola ini dengan aktivasi Nlevel 1 yang menurut konsepnya berhenti pada aktivasi 6 sebelum memasuki deret berikutnya.

Hubungan angka dengan nomor surah dan ayat tersebut merupakan interpretasi dalam kerangka A369H. Kesamaan hasil penjumlahan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan matematis atau ilmiah yang pasti di antara ayat-ayat tersebut.

Metode Pembalikan Angka Menggambarkan Perjalanan Manusia

sumber foto: komunitas 3GO

Ansar menggunakan metode pembalikan angka untuk memperluas penjelasannya. Ia mengubah 69 menjadi 96 dan 78 menjadi 87, kemudian menghubungkan kedua angka hasil pembalikan itu dengan nomor surah dalam Al-Qur’an.

Angka 96 ia kaitkan dengan Surah Al-‘Alaq, yang menurut penafsirannya menggambarkan proses penciptaan dan perjalanan manusia. Sementara itu, angka 87 ia hubungkan dengan Surah Al-A’la sebagai salah satu landasan pemikiran gerakan Saka mengenai penciptaan dan rumput.

Ansar lalu menempatkan angka 9 sebagai bagian akhir deret 6, 7, 8, dan 9. Ia menghubungkannya dengan Surah At-Taubah, yang tidak diawali basmalah seperti surah-surah lain dalam Al-Qur’an.

Bagi Ansar, rangkaian tersebut menggambarkan manusia secara utuh, mulai dari penciptaan hingga perjalanan hidupnya. Ia menilai setiap unsur dalam konsep A369H mengarah pada pemahaman tentang fitrah dan penghambaan kepada Tuhan.

Percakapan dengan Kyai Imam Cholil

Dalam obrolan lanjutan bersama Kyai Imam Cholil dari Bangkalan, Ansar menjelaskan bahwa rasa penasaran mendorongnya menelusuri hubungan antara ayat tentang obat dan pola angka.

Ia menyebut deret angka juga muncul dalam perhitungan matematika peluang, seperti simulasi pelemparan dadu. Dari sana, ia mencoba memahami keterkaitan angka dan ayat melalui sudut pandang yang ia kembangkan.

Ansar menegaskan bahwa ia tidak menganggap rangkaian tersebut sebagai kebetulan. Meski demikian, ia juga menyampaikan ungkapan wallahualam sebagai pengakuan bahwa pengetahuan manusia memiliki batas.

Ia kemudian menyimpulkan bahwa tujuan akhir dari pemikiran A369H adalah penghambaan kepada Tuhan.

A369H sebagai Pola Kesadaran Gerakan Saka

Ansar menempatkan A369H sebagai pola kesadaran yang mendukung gerakan Saka dan Nlevel 1. Ia merangkum pola tersebut melalui tiga tahapan: sadar, ngelakoni atau menjalankan, serta memperhitungkan setiap tindakan secara saksama.

Baca Juga :  Bupati Tulungagung Tinjau GH Melon Biosaka, Gerakan SAKA Kian Menggema di Kalangan Petani

Menurutnya, manusia perlu merefleksikan diri dan kembali merujuk pada Al-Qur’an untuk menjalankan gerakan penyelamatan alam. Ia memandang A369H sebagai pendekatan untuk mengingatkan manusia agar bertindak dengan kesadaran dan mempertimbangkan keseimbangan.

Ansar juga mengaitkan konsep 369 yang sering dikaitkan dengan Nikola Tesla dengan keterbatasan manusia dalam memahami semesta. Ia menyinggung kecepatan cahaya, reaksi plasma, dan perjalanan Isra Mikraj sebagai bagian dari pemikirannya mengenai kecepatan.

Ia menyimpulkan bahwa kecepatan tersebut berkaitan dengan konsep yang ia sebut sebagai konstanta tak hingga. Namun, klaim tentang kecepatan plasma dan fenomena fisik lainnya membutuhkan definisi serta bukti pengukuran yang dapat diuji. Sementara itu, Isra Mikraj merupakan peristiwa keagamaan yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengukuran kecepatan dalam fisika.

Perubahan Warna Bunga Menjadi Cokelat

Dalam pembahasan A369H, Ansar juga menyoroti perubahan warna bunga setelah proses pengolahan. Bunga yang semula memiliki beragam warna dapat menghasilkan larutan berwarna cokelat.

Ia mengaitkan warna dan pola bunga dengan karakteristik fisik, kandungan air, serta susunan partikel. Menurutnya, fenomena tersebut memperlihatkan keterkaitan antara fisika, kimia, dan biologi.

Perubahan warna memang dapat terjadi selama pengolahan bahan tumbuhan akibat berbagai proses, seperti pencampuran pigmen, oksidasi, atau perubahan senyawa. Namun, warna cokelat saja tidak membuktikan bahwa larutan menyimpan informasi khusus atau memiliki khasiat kesehatan.

Dalam percakapan tersebut, Ansar juga menyebut penggunaan beberapa tetes A369H sebelum tidur. Pernyataan itu merupakan bagian dari praktik yang ia ceritakan, bukan rekomendasi medis yang telah terbukti aman dan efektif. Masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi formulasi yang belum jelas komposisi, dosis, dan keamanannya tanpa pemeriksaan yang memadai.

Pada akhirnya, Ansar memaknai A369H sebagai perpaduan filosofi bunga, penafsiran ayat Al-Qur’an, pola angka, dan kesadaran manusia. Ia menempatkan penghambaan serta kepedulian terhadap alam sebagai tujuan utama konsep tersebut, sedangkan klaim ilmiah dan manfaat kesehatannya masih memerlukan pembuktian tersendiri. (rull/3GO)

Berita Terkait

Mengenal Biosaka Algoritma 3, 69 Humanity: Gagasan, Bahan, dan Cara Pembuatannya
Sawah Terpal Mina Padi IP 500 Gunungkidul, Uji Coba Hemat Air dengan Biosaka
Petani Gunung Masigit Terapkan Teknologi SAKA pada Sawah, Hasil Panen Capai 7,5 Ton
Cabe Subur dengan POC Rumput, Begini Cara Tanam ala Petani Pontianak
Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA
Tanam Padi Langsung Setelah Panen Tanpa Olah Tanah, Ini Langkahnya
Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung
Bawang Merah 100 Persen Teknologi SAKA, Petani Ponorogo Ungkap Pola Budidaya Tanpa Pestisida dan Pupuk Kimia

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Ansar Uraikan Filosofi Algoritma 369 Humanity, Kaitkan Bunga, Al-Qur’an, dan Kesadaran Manusia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:02 WIB

Mengenal Biosaka Algoritma 3, 69 Humanity: Gagasan, Bahan, dan Cara Pembuatannya

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:02 WIB

Sawah Terpal Mina Padi IP 500 Gunungkidul, Uji Coba Hemat Air dengan Biosaka

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Petani Gunung Masigit Terapkan Teknologi SAKA pada Sawah, Hasil Panen Capai 7,5 Ton

Selasa, 29 September 2026 - 06:02 WIB

Cabe Subur dengan POC Rumput, Begini Cara Tanam ala Petani Pontianak

Berita Terbaru

Kesehatan

Sering Dibuang, Jantung Pisang Ternyata Punya Banyak Manfaat

Jumat, 9 Okt 2026 - 06:02 WIB