Alamorganik.com-Banyak petani memanfaatkan asam humat untuk memperbaiki kualitas tanah. Selama ini, produsen umumnya menjual asam humat dalam bentuk komersial. Namun, sebagian petani juga membuat larutan berbahan organik yang memiliki fungsi serupa dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, salah satunya eceng gondok.
Banyak orang menganggap eceng gondok sebagai gulma karena tanaman ini tumbuh sangat cepat dan sering menutupi permukaan sungai maupun danau. Padahal, eceng gondok mengandung bahan organik yang cukup tinggi sehingga petani dapat mengolahnya menjadi pembenah tanah melalui proses fermentasi.
Meski demikian, Anda perlu memahami bahwa fermentasi eceng gondok tidak menghasilkan asam humat murni seperti produk yang berasal dari ekstraksi leonardite atau batu bara muda. Proses fermentasi menghasilkan larutan yang kaya bahan organik terlarut dan kemungkinan mengandung senyawa humat, fulvat, serta berbagai hasil penguraian bahan organik. Oleh karena itu, larutan tersebut dapat memberikan manfaat yang berbeda dibandingkan produk asam humat komersial.
Meski begitu, banyak petani tetap memanfaatkan larutan fermentasi eceng gondok sebagai pembenah tanah karena mereka dapat memperoleh bahan bakunya dengan mudah, mengolahnya sendiri, dan menghemat biaya.
Mengapa Memilih Eceng Gondok?

Eceng gondok memiliki kandungan serat, lignin, dan bahan organik yang cukup tinggi. Setelah mengalami penguraian oleh mikroorganisme, sebagian bahan organik tersebut akan berubah menjadi senyawa humat yang bermanfaat bagi tanah.
Selain itu, akar eceng gondok memiliki kandungan bahan organik lebih banyak dibandingkan bagian lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya gunakan tanaman secara utuh, termasuk akar, agar proses fermentasi menghasilkan lebih banyak bahan organik terlarut.
Pemanfaatan eceng gondok juga membantu mengurangi limbah gulma air yang sering mengganggu aliran sungai, waduk, maupun saluran irigasi.
Manfaat Larutan Fermentasi Eceng Gondok untuk Tanah
Jika proses fermentasi berjalan dengan baik, larutan yang dihasilkan berpotensi memberikan beberapa manfaat, antara lain:
- Menambah kandungan bahan organik pada tanah.
- Membantu memperbaiki struktur tanah sehingga lebih gembur.
- Meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.
- Mendukung aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan.
- Membantu meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman.
- Mengurangi risiko tanah menjadi keras akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.
Perlu diingat bahwa efektivitas larutan ini dapat berbeda-beda tergantung kualitas bahan, proses fermentasi, dan kondisi lahan.
Bahan yang Perlu Disiapkan
Sebelum memulai proses fermentasi, siapkan bahan-bahan berikut.
- 20 kilogram eceng gondok utuh beserta akarnya.
- 2 kilogram abu kayu.
- 10 liter air kelapa tua.
- 1 botol molase.
- 1 botol EM4.
- Drum plastik berkapasitas 100 liter.
- Air bersih secukupnya.
Gunakan drum plastik yang bersih dan belum pernah digunakan untuk menyimpan bahan kimia agar proses fermentasi berlangsung dengan baik.
Langkah Pertama, Aktifkan Larutan EM4
Isi drum dengan air bersih hingga sekitar setengah kapasitas.
Selanjutnya, masukkan satu botol EM4 dan satu botol molase ke dalam drum.
Aduk seluruh bahan hingga tercampur merata. Setelah itu, tutup drum rapat, lalu biarkan campuran tersebut selama dua kali 24 jam. Selama proses ini, mikroorganisme di dalam EM4 akan aktif dan berkembang sehingga dapat mempercepat serta mengoptimalkan proses fermentasi saat Anda menambahkan bahan organik.
Buat Larutan Abu Kayu

Sambil menunggu proses aktivasi EM4 selesai, siapkan larutan abu kayu.
Masukkan dua kilogram abu kayu ke dalam ember, kemudian siram dengan sekitar 10 liter air panas.
Aduk hingga abu tercampur rata, lalu diamkan sekitar tiga jam sampai larutan menjadi dingin dan endapan turun ke dasar ember.
Setelah endapan mengendap, ambil hanya air bening di bagian atas. Hindari mencampurkan endapan abu ke dalam drum fermentasi.
Larutan abu kayu mengandung unsur kalium dan bersifat basa. Dalam metode ini, air abu berfungsi membantu melarutkan sebagian senyawa organik dari jaringan eceng gondok sehingga proses penguraian menjadi lebih efektif. Namun, klaim bahwa air abu secara langsung mengekstrak asam humat masih memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut.
Siapkan Eceng Gondok
Selama proses aktivasi berlangsung, bersihkan eceng gondok dari lumpur atau kotoran yang menempel.
Setelah bersih, cacah atau rajang seluruh bagian tanaman, termasuk akar, menjadi potongan kecil.
Ukuran potongan yang lebih kecil akan mempercepat kerja mikroorganisme karena luas permukaan bahan organik menjadi lebih besar.
Jangan membuang akar eceng gondok karena bagian inilah yang mengandung bahan organik cukup tinggi.
Campurkan Seluruh Bahan
Setelah dua hari, buka drum yang berisi larutan EM4 aktif.
Masukkan eceng gondok yang telah dicacah ke dalam drum.
Selanjutnya, tambahkan air kelapa tua sebanyak 10 liter. Air kelapa menyediakan gula alami, mineral, dan berbagai senyawa organik yang dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme selama fermentasi.
Kemudian, tuangkan air bening hasil rendaman abu kayu.
Aduk seluruh bahan hingga tercampur rata.
Tambahkan air bersih hingga hampir penuh, tetapi sisakan ruang sekitar 30 sentimeter di bagian atas drum. Ruang kosong ini membantu mengurangi tekanan gas yang terbentuk selama fermentasi.
Lakukan Fermentasi Minimal 30 Hari
Tutup drum rapat setelah semua bahan tercampur.
Fermentasikan larutan minimal selama 30 hari. Semakin lama proses fermentasi berlangsung dalam kondisi yang baik, bahan organik umumnya akan semakin banyak terurai.
Selama fermentasi, mikroorganisme akan memecah serat tanaman menjadi senyawa organik yang lebih sederhana.
Anda perlu membuka drum setiap dua hari sekali untuk melepaskan gas hasil fermentasi.
Setelah membuka tutup drum, aduk larutan hingga merata, kemudian tutup kembali dengan rapat.
Langkah ini membantu menjaga proses fermentasi tetap stabil sekaligus mencegah tekanan gas berlebihan di dalam drum.
Ciri-Ciri Fermentasi Berhasil
Fermentasi yang berhasil umumnya memiliki beberapa ciri berikut:
- Aroma asam segar, bukan bau busuk menyengat.
- Warna larutan berubah menjadi cokelat tua hingga kehitaman.
- Tidak muncul belatung.
- Tidak terdapat lapisan jamur berwarna hitam atau hijau yang berlebihan.
- Gas fermentasi masih muncul pada minggu-minggu awal.
Jika larutan mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat, kemungkinan proses fermentasi tidak berjalan optimal akibat kontaminasi atau kondisi bahan yang kurang sesuai.
Cara Menggunakan Larutan
Setelah fermentasi mencapai minimal 30 hari, larutan dapat digunakan sebagai pembenah tanah.
Encerkan satu liter larutan ke dalam 20 liter air bersih atau gunakan perbandingan 1:20.
Selanjutnya, siramkan larutan ke bedengan, lahan tanam, atau area sekitar perakaran tanaman.
Banyak petani mengaplikasikan pembenah tanah organik sebelum tanam atau setelah panen untuk membantu memperbaiki kondisi tanah.
Frekuensi aplikasi dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Tips Agar Fermentasi Berjalan Optimal
Beberapa hal berikut dapat membantu meningkatkan keberhasilan fermentasi.
Gunakan eceng gondok yang masih segar agar kandungan bahan organiknya tetap tinggi.
Pilih abu kayu dari kayu alami tanpa campuran cat, plastik, atau bahan kimia lainnya.
Simpan drum di tempat teduh agar suhu fermentasi lebih stabil.
Pastikan alat yang digunakan bersih sehingga mikroorganisme pengganggu tidak mudah berkembang.
Jangan mengisi drum hingga penuh karena fermentasi menghasilkan gas.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Banyak petani telah menggunakan metode ini untuk mengolah eceng gondok menjadi pembenah tanah. Namun, hingga saat ini para peneliti masih memiliki data yang terbatas mengenai kadar asam humat yang terbentuk selama proses fermentasi eceng gondok.
Karena itu, para ahli lebih tepat menyebut hasil fermentasi tersebut sebagai larutan bahan organik terfermentasi yang mengandung senyawa humat alami, bukan asam humat murni.
Karena itu, jangan menganggap larutan ini sebagai pengganti penuh produk asam humat komersial yang telah melalui proses ekstraksi dan pengujian laboratorium.
Namun, jika tujuan utamanya adalah menambah bahan organik dan memperbaiki kualitas tanah, larutan fermentasi eceng gondok tetap dapat menjadi salah satu alternatif yang ekonomis.
Kesimpulan

Eceng gondok tidak selalu menjadi gulma yang merugikan. Dengan menerapkan proses fermentasi yang tepat, Anda dapat mengolah eceng gondok menjadi larutan pembenah tanah yang kaya bahan organik dan berpotensi membantu meningkatkan kualitas tanah.
Proses pembuatannya juga cukup sederhana. Anda hanya perlu menyiapkan eceng gondok, EM4, molase, air kelapa, abu kayu, dan air bersih, kemudian memfermentasikan seluruh bahan selama minimal 30 hari.
Meski manfaatnya cukup menjanjikan, gunakan larutan ini sebagai bagian dari pengelolaan tanah secara menyeluruh. Padukan dengan pemberian kompos, pupuk kandang matang, rotasi tanaman, dan praktik budidaya yang baik agar kesuburan tanah tetap terjaga dalam jangka panjang. (rull)









