Kentang Bertunas Jangan Dibuang! Cara Menanam di Polybag hingga Panen

- Penulis

Kamis, 5 November 2026 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alamorganik.com-Kentang menjadi salah satu bahan makanan yang hampir selalu tersedia di dapur. Umbi yang satu ini bisa diolah menjadi berbagai hidangan lezat, mulai dari perkedel, kentang goreng, sambal goreng, hingga campuran sayur dan sup. Namun, pernahkah Anda menemukan kentang yang tersimpan cukup lama hingga mengeluarkan mata tunas?

Sebagian orang mungkin langsung membuang kentang tersebut karena menganggapnya sudah tidak layak digunakan. Padahal, kentang yang mulai bertunas masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan, terutama sebagai bahan bibit tanaman. Jika kondisinya masih sehat, tidak busuk, dan tidak berjamur, kentang tersebut bisa digunakan untuk memulai kegiatan berkebun di rumah.

Menariknya, Anda tidak membutuhkan kebun yang luas untuk menanam kentang. Cukup siapkan polybag, karung tanam, atau wadah berukuran cukup besar yang memiliki lubang drainase. Dengan media tanam yang tepat dan perawatan teratur, Anda bisa mencoba menghasilkan kentang sendiri dari rumah.

Selain menghemat pengeluaran, kegiatan ini juga bisa menjadi aktivitas menyenangkan bersama keluarga. Anak-anak pun dapat belajar mengenal proses pertumbuhan tanaman, mulai dari umbi mengeluarkan tunas hingga menghasilkan kentang baru.

1. Mengapa Kentang yang Bertunas Bisa Ditanam Kembali?

sumber foto: asset.kompas.com

Kentang merupakan tanaman yang berkembang biak secara vegetatif melalui umbinya. Pada permukaan kentang terdapat bagian yang dikenal sebagai mata tunas. Bagian inilah yang dapat tumbuh menjadi tunas baru ketika mendapatkan kondisi lingkungan yang sesuai.

Saat kentang tersimpan terlalu lama, terutama di tempat yang memiliki kondisi cukup hangat dan lembap, mata tunas biasanya mulai berkembang. Tunas tersebut menunjukkan bahwa umbi sedang memulai proses pertumbuhan.

Karena itu, kentang yang sudah mengeluarkan tunas dapat dimanfaatkan sebagai bibit. Namun, Anda tetap perlu memperhatikan kualitas umbinya sebelum menanam.

Pilih kentang yang masih keras, tidak berlendir, tidak berbau busuk, dan tidak menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Kentang yang terlalu keriput, rusak, atau berjamur sebaiknya tidak digunakan sebagai bibit.

Perlu diingat, tidak semua kentang bertunas pasti menghasilkan tanaman yang sehat. Kualitas umbi, kondisi tunas, media tanam, air, dan sinar matahari turut menentukan keberhasilan pertumbuhannya.

2. Siapkan Alat dan Bahan untuk Menanam Kentang

Sebelum mulai menanam, siapkan beberapa perlengkapan sederhana. Anda bisa mendapatkan sebagian besar bahan tersebut dari lingkungan sekitar.

Berikut perlengkapan yang diperlukan:

  • Kentang bertunas yang masih sehat.
  • Polybag atau karung tanam berukuran sekitar 30–50 liter.
  • Tanah gembur.
  • Kompos atau pupuk kandang matang.
  • Sekam bakar atau bahan lain untuk membantu memperbaiki struktur tanah.
  • Air bersih untuk menyiram tanaman.
  • Sekop kecil atau alat berkebun sederhana.

Untuk media tanam, Anda bisa mencampurkan tanah gembur, kompos matang, dan sekam bakar dengan perbandingan yang relatif seimbang. Sesuaikan campuran tersebut dengan kondisi tanah yang tersedia.

Media tanam harus mampu menahan kelembapan secukupnya, tetapi tetap memiliki drainase yang baik. Kentang tidak menyukai media yang terus-menerus tergenang karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pembusukan umbi.

Pastikan polybag memiliki lubang di bagian bawah agar kelebihan air dapat keluar dengan mudah.

3. Pilih Kentang dengan Mata Tunas yang Sehat

Langkah pertama yang menentukan keberhasilan penanaman adalah memilih bibit berkualitas.

Perhatikan bagian permukaan kentang. Pilih umbi yang memiliki mata tunas sehat, tidak menunjukkan pembusukan, dan masih memiliki tekstur cukup padat.

Tunas yang baik biasanya terlihat kokoh dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Jika kentang berukuran kecil dan hanya memiliki satu atau dua mata tunas, Anda bisa menanamnya secara utuh. Namun, jika kentang berukuran besar dan memiliki beberapa mata tunas, Anda dapat membaginya menjadi beberapa bagian.

Setiap potongan sebaiknya memiliki satu atau dua mata tunas. Gunakan pisau bersih dan tajam agar potongan tidak mudah rusak.

Jangan memotong kentang terlalu kecil karena setiap bagian tetap membutuhkan cadangan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan awal tanaman.

4. Angin-Anginkan Potongan Kentang Sebelum Ditanam

Setelah memotong kentang, jangan langsung memasukkannya ke dalam tanah. Letakkan potongan tersebut di tempat teduh yang memiliki sirkulasi udara baik.

Diamkan sekitar satu hingga dua hari atau sampai permukaan bekas potongan mengering dan membentuk lapisan pelindung.

Proses ini membantu mengurangi risiko pembusukan akibat luka potongan yang masih terbuka ketika bersentuhan langsung dengan tanah lembap.

Hindari menjemur potongan kentang di bawah sinar matahari langsung karena kondisi tersebut dapat membuatnya kehilangan kelembapan secara berlebihan.

Baca Juga :  Tips Ampuh Mengatasi Penyakit Bercak Daun Septoria pada Tanaman Tomat

Jika Anda menggunakan kentang berukuran kecil secara utuh, tahap pemotongan tentu tidak diperlukan. Anda bisa langsung mempersiapkan media tanam dan wadahnya.

5. Cara Menanam Kentang Menggunakan Polybag

Setelah bibit siap, sekarang saatnya memulai proses penanaman.

Pertama, masukkan media tanam ke dalam polybag sekitar sepertiga bagian wadah. Jangan mengisi polybag sampai penuh karena nantinya Anda masih perlu menambahkan tanah ketika tanaman mulai tumbuh.

Kedua, buat lubang tanam dengan kedalaman sekitar 5–10 sentimeter. Letakkan bibit kentang dengan posisi mata tunas menghadap ke atas.

Ketiga, tutup kembali bibit menggunakan tanah hingga seluruh bagian kentang tertutup. Setelah itu, siram media tanam secukupnya agar tanah menjadi lembap.

Letakkan polybag di tempat yang mendapatkan sinar matahari cukup dan memiliki sirkulasi udara baik.

Jika Anda ingin menanam lebih dari satu bibit dalam satu wadah, pastikan ukurannya cukup besar dan berikan jarak agar tanaman tidak saling berebut ruang, air, dan nutrisi.

Untuk pemula, menggunakan satu bibit dalam satu polybag berukuran cukup besar bisa menjadi pilihan yang lebih mudah dalam melakukan perawatan.

6. Lakukan Pembumbunan agar Umbi Kentang Berkembang

sumber foto: gemini.google.com

Salah satu perawatan penting dalam budidaya kentang adalah pembumbunan.

Pembumbunan merupakan kegiatan menambahkan tanah ke bagian pangkal tanaman ketika batang dan daun mulai tumbuh. Cara ini membantu menutup bagian umbi yang berkembang agar tidak terkena cahaya matahari secara langsung.

Ketika tanaman mulai meninggi, tambahkan media tanam secara bertahap. Jangan langsung memenuhi polybag dalam satu kali penambahan.

Sisakan sebagian bagian atas tanaman agar daun tetap mendapatkan cahaya matahari.

Lakukan pembumbunan kembali sesuai perkembangan tanaman sampai wadah terisi hampir penuh. Pastikan penambahan tanah tidak menimbun seluruh daun.

Mengapa pembumbunan penting?

Umbi kentang yang terkena cahaya matahari dapat berubah menjadi hijau. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa umbi mengalami paparan cahaya dan dapat meningkatkan kadar glikoalkaloid alami, seperti solanin dan chaconine.

Senyawa tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan jika seseorang mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan.

Karena itu, selalu tutupi bagian umbi dengan media tanam agar terlindung dari cahaya.

7. Perhatikan Penyiraman agar Tanaman Tidak Mudah Busuk

Air menjadi salah satu kebutuhan utama tanaman kentang. Namun, Anda tidak perlu menyiramnya secara berlebihan.

Siram tanaman ketika permukaan media tanam mulai mengering. Pastikan tanah tetap lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Pada awal pertumbuhan, tanaman membutuhkan kelembapan yang cukup untuk membantu tunas berkembang. Ketika tanaman mulai membentuk umbi, kebutuhan air juga perlu dijaga agar pertumbuhannya berlangsung dengan baik.

Hindari membiarkan media tanam terlalu kering dalam waktu lama. Sebaliknya, jangan pula menyiram terus-menerus ketika tanah masih basah.

Perhatikan juga kondisi cuaca. Ketika hujan turun cukup sering, Anda bisa mengurangi penyiraman dan memastikan polybag tidak menampung air berlebihan.

8. Berikan Pupuk untuk Mendukung Pertumbuhan

Selain air dan sinar matahari, tanaman kentang membutuhkan nutrisi agar dapat tumbuh dengan baik.

Anda bisa menggunakan kompos atau pupuk kandang yang sudah matang sebagai sumber bahan organik. Tambahkan sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi media tanam.

Pupuk dengan kandungan unsur hara seimbang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Namun, ketika tanaman memasuki fase pembentukan umbi, kebutuhan unsur hara perlu diperhatikan secara lebih cermat.

Hindari memberikan pupuk nitrogen secara berlebihan. Pasalnya, kelebihan nitrogen dapat mendorong pertumbuhan daun dan batang secara berlebihan sehingga perkembangan umbi kurang optimal.

Gunakan pupuk sesuai dosis dan petunjuk pemakaian. Jika baru pertama kali menanam kentang, Anda bisa memulai dengan pemberian kompos matang dan mengamati perkembangan tanaman secara berkala.

9. Pastikan Tanaman Mendapatkan Sinar Matahari yang Cukup

Kentang membutuhkan cahaya matahari untuk mendukung proses fotosintesis. Karena itu, letakkan polybag di area terbuka yang mendapatkan sinar matahari cukup.

Tanaman kentang umumnya tumbuh baik di lingkungan yang sejuk dengan suhu yang sesuai untuk varietasnya. Suhu yang terlalu panas dapat menghambat pembentukan umbi.

Jika Anda tinggal di wilayah dengan suhu relatif hangat, pilih lokasi yang memiliki sirkulasi udara baik dan hindari area yang terlalu panas.

Amati kondisi daun setiap hari. Daun yang tumbuh hijau dan segar umumnya menunjukkan bahwa tanaman mendapatkan kondisi pertumbuhan yang cukup baik.

10. Periksa Daun dan Batang dari Serangan Hama

Jangan hanya memperhatikan pertumbuhan daun. Anda juga perlu memeriksa kemungkinan munculnya hama dan penyakit.

Baca Juga :  Mengapa Pertanian Organik Membutuhkan Waktu? Ini Alasannya

Beberapa gangguan yang dapat menyerang tanaman kentang antara lain kutu daun, ulat, kumbang, dan penyakit yang disebabkan oleh jamur atau bakteri.

Perhatikan jika muncul lubang pada daun, bercak tidak biasa, perubahan warna, atau batang yang mulai layu.

Segera pisahkan bagian tanaman yang terserang apabila diperlukan. Bersihkan gulma di sekitar polybag dan hindari kondisi lingkungan yang terlalu lembap.

Jika serangan hama semakin banyak, gunakan metode pengendalian yang sesuai dengan jenis hama dan kondisi tanaman. Jangan sembarangan mencampurkan pestisida karena penggunaan yang tidak tepat dapat membahayakan tanaman maupun lingkungan.

11. Kapan Kentang Bisa Dipanen?

Salah satu hal yang paling ditunggu ketika menanam kentang adalah waktu panen.

Secara umum, kentang dapat dipanen sekitar 90–120 hari setelah tanam. Namun, waktu panen dapat berbeda bergantung pada varietas, suhu lingkungan, kualitas bibit, dan perawatan.

Perhatikan kondisi tanaman ketika memasuki usia panen.

Salah satu tanda yang sering muncul adalah daun mulai menguning dan mengering secara alami. Batang tanaman juga biasanya mulai layu ketika umbi sudah mendekati kematangan.

Ketika tanda tersebut muncul, kurangi penyiraman dan tunggu hingga tanaman benar-benar siap dipanen sesuai karakter varietasnya.

Untuk memanen, keluarkan media tanam secara perlahan. Anda bisa memiringkan polybag, kemudian mengambil umbi menggunakan tangan atau alat berkebun kecil.

Lakukan dengan hati-hati agar kulit kentang tidak terluka akibat terkena sekop atau benda tajam.

Setelah panen, bersihkan tanah yang menempel secara perlahan dan angin-anginkan kentang di tempat teduh. Pisahkan umbi yang terluka atau menunjukkan tanda pembusukan.

12. Hal Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum Menggunakan Kentang Bertunas

Meskipun kentang bertunas bisa dimanfaatkan sebagai bibit, Anda tetap perlu memahami perbedaan antara kentang untuk ditanam dan kentang untuk dikonsumsi.

Kentang yang sudah menghijau atau mengeluarkan tunas dapat mengalami peningkatan kadar glikoalkaloid alami, terutama pada bagian kulit dan sekitar mata tunas.

Kadar senyawa tersebut dapat meningkat ketika kentang mengalami penyimpanan yang kurang tepat, terkena cahaya, atau mulai mengalami proses pertunasan.

Karena itu, jangan menganggap semua kentang bertunas aman untuk dimakan. Sebaiknya hindari mengonsumsi kentang yang sudah menghijau, terasa pahit, rusak, atau menunjukkan tanda pembusukan. Memasak kentang juga tidak selalu menghilangkan glikoalkaloid tersebut.

Untuk keperluan penanaman, pilih umbi yang masih sehat dan tidak busuk. Gunakan bibit dari sumber yang tepercaya apabila memungkinkan, karena kentang konsumsi dari pasar belum tentu bebas dari penyakit tanaman.

13. Menanam Kentang di Rumah Bisa Menjadi Kegiatan Produktif

Menanam kentang menggunakan polybag bukan hanya memberikan pengalaman berkebun yang menyenangkan. Kegiatan ini juga dapat membantu keluarga memanfaatkan ruang kosong di halaman rumah.

Anda bisa meletakkan beberapa polybag di halaman, teras terbuka, atau area lain yang mendapatkan sinar matahari cukup.

Selain itu, kegiatan berkebun dapat mengajarkan kesabaran dan kedisiplinan. Anda perlu menyiram, memberikan nutrisi, memeriksa kondisi daun, dan memperhatikan pertumbuhan tanaman secara teratur.

Tidak perlu langsung menanam dalam jumlah banyak. Mulailah dengan satu atau dua polybag untuk memahami karakter pertumbuhan tanaman kentang.

Jika hasilnya memuaskan, Anda bisa menambah jumlah wadah dan mencoba varietas kentang lain yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Kesimpulan

sumber foto: asset.kompas.com

Kentang yang sudah bertunas tidak selalu harus berakhir di tempat sampah. Selama umbinya masih sehat, tidak busuk, dan tidak berjamur, Anda dapat memanfaatkannya sebagai bibit untuk mencoba menanam kentang sendiri di rumah.

Caranya cukup sederhana, mulai dari memilih bibit, menyiapkan media tanam, memotong kentang jika diperlukan, mengangin-anginkan bekas potongan, hingga menanamnya di polybag.

Selanjutnya, lakukan penyiraman secara teratur, pembumbunan, pemberian pupuk, dan pengendalian hama. Dengan perawatan yang tepat, Anda bisa mencoba memanen kentang sendiri setelah tanaman mencapai usia panen.

Jadi, sebelum membuang kentang yang mulai bertunas, periksa terlebih dahulu kondisinya. Siapa tahu, umbi yang hampir terlupakan di dapur justru bisa menjadi awal kegiatan berkebun yang produktif.

Bagaimana dengan Anda? Pernah menemukan kentang bertunas di dapur? Apakah sudah pernah mencoba menanamnya menggunakan polybag atau karung bekas?

Yuk, bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Jangan lupa bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman yang gemar berkebun agar semakin banyak orang mengetahui cara memanfaatkan kentang bertunas menjadi bibit tanaman di rumah. (rull)

Berita Terkait

Mengapa Pertanian Organik Membutuhkan Waktu? Ini Alasannya
Lahan Sempit Bukan Masalah! 7 Ide Para-para Kebun Ubi yang Hemat Tempat
Cara Menanam Ubi Jalar dari Bibit Stek hingga Panen agar Umbi Besar dan Melimpah
Jangan Buang Biji Labu Bekas Kolak! Begini Cara Menanamnya agar Berbuah Lebat
7 Cara Menanam Kangkung Hidroponik dengan Botol Bekas yang Benar
Jangan Buang Mahkota Nanas! Begini Cara Menanamnya agar Tumbuh Jadi Tanaman Baru
Cara Menanam Bawang Putih dari Satu Siung di Pot, Bisa Panen Daun hingga Umbi
Gulma Bukan Sekadar Tanaman Pengganggu, Kenali Jenisnya untuk Membaca Kondisi Tanah

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:02 WIB

Kentang Bertunas Jangan Dibuang! Cara Menanam di Polybag hingga Panen

Selasa, 3 November 2026 - 18:02 WIB

Mengapa Pertanian Organik Membutuhkan Waktu? Ini Alasannya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Lahan Sempit Bukan Masalah! 7 Ide Para-para Kebun Ubi yang Hemat Tempat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:02 WIB

Cara Menanam Ubi Jalar dari Bibit Stek hingga Panen agar Umbi Besar dan Melimpah

Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Jangan Buang Biji Labu Bekas Kolak! Begini Cara Menanamnya agar Berbuah Lebat

Berita Terbaru

Uncategorized

Mengenal Manfaat Buah Zuriat untuk Kesehatan dan Cara Mengolahnya

Kamis, 5 Nov 2026 - 06:02 WIB