Jawa Timur, alamorganik.com — Inovasi pertanian ramah lingkungan karya anak bangsa kembali mencuri perhatian dunia. Muhammad Ansar, penemu Biosaka dan NLevel1, menerima kunjungan istimewa dari sejumlah ahli dari Malaysia yang dipimpin oleh Cik Hussin bin Ismail menjadi paling yang ditokohkan dalam rombongan tersebut.
Kunjungan itu berlangsung di Blitar, Jawa Timur, dan menjadi momentum penting bagi penguatan kerja sama pertanian lintas negara di kawasan Asia Tenggara, Minggu, (9/11/2025).
Cik Hussin bersama sejumlah ahli Malaysia datang langsung menemui Muhammad Ansar untuk melihat lebih dekat teknologi pertanian alami yang kini banyak diterapkan petani Indonesia.
Mereka ingin memahami lebih jauh bagaimana inovasi tersebut mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan menciptakan sistem pertanian yang sehat, efisien, serta ramah lingkungan.
Muhammad Ansar menyambut kunjungan tersebut dengan penuh semangat. Ia menilai perhatian Malaysia sebagai sinyal positif bagi gerakan pertanian hijau yang tengah tumbuh di Asia Tenggara.
“Kekuatan lintas batas antara Malaysia, Thailand, dan Brunei dalam waktu dekat akan menjawab siapa yang berbicara dengan data dan fakta, dan siapa yang mencoba menutupi kebenaran dengan kebohongan,” ujar Ansar.
Ia menegaskan bahwa pemasifan lintas batas dalam penerapan teknologi Biosaka akan memperkuat optimisme para relawan pertanian organik di dalam negeri. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar ekspor gagasan, melainkan bentuk solidaritas antarnegara dalam menghadapi krisis pangan dan kerusakan ekosistem pertanian global.
“Alhamdulillah, para ahli Malaysia sudah tertarik dan ingin belajar langsung. Saya siap membantu menyelesaikan permasalahan pertanian mereka, terutama dalam mengembangkan sistem pertanian organik yang modern, instan, dan efisien,” kata Ansar.
Ia menambahkan, sistem pertanian tradisional yang masih mengandalkan pupuk kimia dan pestisida sintetis telah menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
“Selama ini, petani menjadi korban dari ambisi segelintir orang kaya yang ingin hidup sehat, sementara petani dipaksa bekerja dengan cara yang merusak tanah dan tubuh mereka sendiri. Tanpa keamanan, tanpa kesehatan, tanpa lingkungan yang lestari,” tegasnya.
Biosaka dan NLevel1 sendiri dikenal sebagai inovasi lokal yang lahir dari riset lapangan dan pemahaman mendalam terhadap alam. Biosaka merupakan cairan hayati alami yang dibuat dari ekstraksi rumput dan tumbuhan tertentu, berfungsi memperkuat daya tahan tanaman, menstabilkan tanah, serta mengembalikan unsur hara tanpa bahan kimia berbahaya.
Sementara NLevel1 berperan sebagai penguat sistem mikroba alami tanah, mempercepat proses fotosintesis, dan meningkatkan produktivitas tanaman tanpa menimbulkan residu.
Kedua teknologi ini terbukti efektif di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di lahan-lahan kritis yang sebelumnya sulit digarap. Hasil penelitian lapangan menunjukkan penggunaan Biosaka dan NLevel1 mampu mengurangi biaya produksi hingga 60 persen, meningkatkan hasil panen, dan memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan.
Kunjungan Cik Hussin beserta rombongan menjadi bukti bahwa inovasi tersebut memiliki daya tarik global. Ia mengaku terkesan dengan pendekatan alami yang ditawarkan Ansar, serta komitmen relawan Biosaka dalam mendukung petani kecil.
“Kami melihat peluang besar untuk berkolaborasi dalam bidang pertanian organik. Pendekatan yang dikembangkan Ansar bisa menjadi solusi nyata bagi petani di Malaysia,” ungkap Cik Hussin.
Sementara itu, pengurus Komunitas 3G O Nasional Eny Prasetyowati, SP menyambut baik langkah para ahli yang menunjukkan ketertarikan terhadap penemuan anak bangsa. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa karya lokal memiliki nilai strategis dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan di tingkat global.
“Kami bangga karena teknologi yang dikembangkan oleh putra Indonesia kini menjadi perhatian dunia. Biosaka dan NLevel1 bukan hanya inovasi, tapi juga gerakan moral untuk menyelamatkan bumi dari pencemaran kimia. Semangatnya satu: Go Organik!” ujar Feriny.
Ia berharap dukungan lintas negara ini dapat memperkuat jaringan Gerakan Go Organik (3GO) yang selama ini aktif mengedukasi petani agar beralih ke sistem pertanian alami. Menurut Feriny, kesadaran kolektif untuk kembali ke alam merupakan kunci menghadapi tantangan pangan masa depan.
Pertemuan antara Muhammad Ansar dan sejumlah para ahli Malaysia menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu menembus batas negara. Dari sebuah desa di Blitar, semangat perubahan itu kini menjalar hingga ke tingkat internasional, membawa harapan baru bagi masa depan pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan berdaulat. (al)









