Petani Terapkan Teknologi Ramah Lingkungan, Hasil Panen Tembus 8,3 Ton per Hektare

- Penulis

Kamis, 23 Oktober 2025 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pati, alamorganik.com — Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gabus Pati (BPP Gabus) mengadakan Sekolah Lapang (SL) Padi Ramah Lingkungan hari ini melakukan ubinan demplot di lahan seluas 1.500 meter persegi di Desa Kosekan, Pati, Kamis (23/10/2025).

Mereka mencatat hasil menggembirakan dengan produktivitas mencapai 8,3 ton per hektare, setara dengan 5,19 kilogram gabah dari lahan percobaan.

Petani menerapkan pendekatan pertanian ramah lingkungan dengan berbagai perlakuan inovatif. Mereka menanam padi menggunakan pupuk kimia (pukim) sebanyak 37 kilogram, lalu menyemprotkan Biosaka dua kali, Biosaka ala MKP dua kali, dan parfum urine untuk mengusir hama.

Baca Juga :  Pakai Biosaka, Kutu Kebul dan Fusarium pada Tanaman Cabai Kabur Alami

Sebelum memasang parfum urine, mereka menyemprotkan pestisida dua kali untuk menekan populasi serangga pengganggu.

Koordinator PPL BPP Kecamatan Gabus Pati Eny Prasetyowati,SP menegaskan bahwa hasil ubinan ini membuktikan efektivitas teknologi alami dalam meningkatkan panen tanpa merusak lingkungan. “Kombinasi antara Biosaka dan parfum urine memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama sekaligus memperbaiki struktur tanah,” katanya.

Para petani merasakan manfaat langsung dari metode tersebut. Mereka berhasil menekan biaya produksi karena penggunaan pestisida kimia berkurang drastis. Tanaman juga tumbuh lebih hijau dan tahan terhadap cuaca ekstrem.

Baca Juga :  Teknik Polikultur: Solusi Bertani Hemat Lahan dengan Hasil Maksimal

Keberhasilan ubinan ini mendorong pemerintah daerah dan penyuluh pertanian untuk memperluas penerapan teknologi padi ramah lingkungan. Mereka menargetkan agar lebih banyak kelompok tani mengadopsi metode tersebut guna meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sawah.

Dengan hasil ubinan mencapai 8,3 ton per hektare, para petani membuktikan bahwa pertanian berkelanjutan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan keuntungan ekonomi mereka. (al)

 

Berita Terkait

Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA
Tanam Padi Langsung Setelah Panen Tanpa Olah Tanah, Ini Langkahnya
Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung
Bawang Merah 100 Persen Teknologi SAKA, Petani Ponorogo Ungkap Pola Budidaya Tanpa Pestisida dan Pupuk Kimia
Budidaya Tembakau Berbasis Biosaka di Sragen, Petani Klaim Lebih Hemat Biaya
Pengakuan Warga Lombok, Klaim Asma Tak Kambuh Setelah Menggunakan B2N1A6
Cabai Berusia 7 Bulan Masih Rajin Berbuah, Petani Pati Bagikan Pengalaman Pakai RR dan Biosaka
Ali Rizaldi Ceritakan Pengalaman Menggunakan B2N1A6 untuk Ibunya yang Pernah Stroke

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 22:02 WIB

Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:02 WIB

Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:29 WIB

Bawang Merah 100 Persen Teknologi SAKA, Petani Ponorogo Ungkap Pola Budidaya Tanpa Pestisida dan Pupuk Kimia

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Budidaya Tembakau Berbasis Biosaka di Sragen, Petani Klaim Lebih Hemat Biaya

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:23 WIB

Pengakuan Warga Lombok, Klaim Asma Tak Kambuh Setelah Menggunakan B2N1A6

Berita Terbaru