Jatim, alamorganik.com–Muhammad Ansar penemu Biosaka dan Nlevel 1 kembali bikin heboh. Banyak ahli melakukan penelitian mengenai Biosaka dan Nlevel 1 tapi tak sedikit para profesor tak mengakui keampuhan penemuan fenomenal tersebut.
Ironi ditengah petani Indonesia sudah membuktikan keunggulan temuan teranyar dari Ansar malah para ahli sibuk berdebat mencari celah kelemahannya.
Biosaka kembali menjadi perbincangan di kalangan petani setelah muncul berbagai laporan keberhasilan maupun kegagalan di lapangan. Menanggapi hal tersebut, penemu Biosaka dan pengembang N Level, Muhamad Ansar, menegaskan bahwa kegagalan yang terjadi bukan disebabkan oleh teknologinya, melainkan karena kesalahan dalam penerapan di lapangan yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Menurut Ansar, masih banyak petani yang memperlakukan Biosaka seperti pupuk atau cairan semprot biasa. Padahal, cara aplikasinya memiliki prinsip yang berbeda dan harus dipahami secara benar.
“Ini baru ketahuan bila ada gagal dari Biosaka ternyata akibat bukan karena Biosakanya, tapi karena petani saat aplikasi tidak sesuai SOP. Praktik aplikasi masih disamakan dengan cara nyemprot pada umumnya, jangan disamakan dengan cara nyemprot yang lainnya, jelas beda lurrr. Ingat lurrr, Biosaka itu nyemprot ngabut,” tegas Ansar.
Ia mengingatkan petani agar tidak terburu-buru menyimpulkan kegagalan tanpa melakukan pengamatan secara teliti. Menurutnya, kunci keberhasilan Biosaka terletak pada ketelitian, kesabaran, dan konsistensi dalam mengikuti metode yang telah diajarkan.
“Petani hati-hati, jangan mudah menyimpulkan. Tolong teliti dan niteni,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ansar memperkenalkan pengembangan terbaru yang disebut sebagai Biosaka jilid dua, yang mengusung teknologi N Level 1. Teknologi ini diklaim mampu memberikan solusi cepat terhadap berbagai persoalan lingkungan, mulai dari bau gas amoniak, gas metana, limbah organik, hingga residu dan sampah.
“Biosaka jilid dua itu teknologi yang dianggap aneh bin ajaib. Silakan praktikkan dan buktikan canggihnya N Level 1. Teknologi ini mampu mensolusi seluruh bau gas amoniak, gas metana, limbah, sampah, residu, bahkan dalam hitungan menit bisa mengubah kohe menjadi setara kompos,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini merupakan bagian dari upaya mengembalikan keseimbangan alam dengan pendekatan alami. Ansar mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Ojo gumun ojo dumeh, lebih baik silakan dilakoni dan niteni. Mari bersama bergerak nyata selamatkan alam, kembali ke alam, perangi sampah, dan jaga lingkungan tetap asri, segar, dan nyaman,” katanya.
Ansar juga menekankan pentingnya membangun kemandirian pangan nasional melalui pertanian yang sehat dan berkelanjutan. Ia percaya, dengan memanfaatkan teknologi alami seperti Biosaka, petani dapat meningkatkan kualitas tanah sekaligus menjaga ekosistem.
“Wujudkan tanah nusantara sebagai land of harmony. Konsumsi pangan lokal sehat, cintai produksi dalam negeri, dan jadikan Indonesia sebagai bangsa yang mampu memberi makan dunia,” tutupnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan teknologi pertanian tidak hanya bergantung pada inovasi, tetapi juga pada pemahaman dan komitmen penggunanya. Dengan penerapan yang tepat, Biosaka diharapkan menjadi salah satu solusi menuju pertanian berkelanjutan dan lingkungan yang lebih sehat.
Petani tidak butuh teori perdebatan panjang mencari titik lemah Biosaka dan Nlevel1 tapi para petani lebih percaya pada hasil bukan pada penelitian yang tak ada ujungnya. (ms)









