Panen Semangka Biosaka dan Cabe Rawit Usia Lebih Satu Tahun

- Penulis

Minggu, 21 September 2025 - 15:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pati, alamorganik.com–Semangat bertani ramah lingkungan terus digelorakan Komunitas Penggiat Pertanian Organik berbasis Biosaka.

Dengan mengenakan seragam bertuliskan SAKA (Selamatkan Alam Kembali ke Alam), komunitas ini menggelar panen semangka dan cabai rawit di Desa Slungkep, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Minggu (22/9/2025), dilansir dari albrita.com.

Komunitas tersebut juga tergabung dalam jaringan 3GO. Pengurus 3GO nasional, Ferieny, menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan dukungan nyata kepada petani binaan, salah satunya Suharno.

“Kami ingin melihat langsung hasil pertanian organik serta memberi semangat kepada para petani yang konsisten menjaga alam,” ujarnya.

Baca Juga :  Kisah Bu Tri Cahyani Mengurangi Nyeri Plantar Fasciitis dengan Terapi Biosaka

Suharno, petani yang menjadi teladan dalam penerapan pertanian organik, menanam semangka di lahan seluas 3.000 meter persegi.

Ia mengurangi penggunaan pupuk kimia secara drastis. “Saya hanya pakai pukim 2 kilogram saja, 1 kilogram saat vegetatif dan 1 kilogram saat generatif,” ungkapnya.

Selebihnya, Suharno mengandalkan bahan-bahan alami. Ia rutin memberikan pupuk organik cair (POC) dari rendaman rumput dua kali seminggu dengan cara dikocor, serta menambahkan Biosaka 15 ml per tangki dua kali seminggu.

Untuk menjaga kesehatan tanaman, ia juga menyemprotkan POC urine Nlevel1 seminggu sekali dengan dosis satu liter per tangki. Sementara parfum urine digunakan sebagai pengendalian alami terhadap hama.

Baca Juga :  Kontroversi Biosaka Menguat, Relawan Klaim Kritik Sarat Kepentingan

Hasil panen Suharno diapresiasi langsung oleh komunitas. Mereka membeli semangka dengan harga Rp6.000 per kilogram dan cabai rawit Rp15.000 per kilogram. Cabai rawit milik Suharno bahkan sudah berusia satu tahun, namun tetap produktif hingga kini.

Panen ini menjadi bukti bahwa pola tanam organik berbasis Biosaka mampu menghasilkan panen berkualitas, lebih hemat biaya, dan ramah lingkungan.

Komunitas berharap semakin banyak petani yang mengikuti jejak serupa demi pertanian yang berkelanjutan. (al)

Berita Terkait

Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA
Testimoni Nlevel1 Aktivasi 6 Disebut Bantu Selamatkan Ayam Keracunan
Tanam Padi Langsung Setelah Panen Tanpa Olah Tanah, Ini Langkahnya
Padi Inpari 32 Tak Kunjung Berbulir, Petani Coba Perlakuan pada Benih
Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung
Cuma Pakai Tapai Singkong! Cara Membuat POC untuk Tanaman dan Dosisnya
POC Bunga Pepaya: Cara Membuat, Dosis, dan Tips Fermentasi yang Tepat
Bawang Merah 100 Persen Teknologi SAKA, Petani Ponorogo Ungkap Pola Budidaya Tanpa Pestisida dan Pupuk Kimia

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 22:02 WIB

Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA

Jumat, 4 September 2026 - 18:02 WIB

Testimoni Nlevel1 Aktivasi 6 Disebut Bantu Selamatkan Ayam Keracunan

Kamis, 3 September 2026 - 06:02 WIB

Padi Inpari 32 Tak Kunjung Berbulir, Petani Coba Perlakuan pada Benih

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:02 WIB

Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung

Kamis, 27 Agustus 2026 - 21:05 WIB

Cuma Pakai Tapai Singkong! Cara Membuat POC untuk Tanaman dan Dosisnya

Berita Terbaru