Alamorganik.com-Siang itu, suasana di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang terasa berbeda. Udara yang biasanya dipenuhi bau menyengat kini terasa jauh lebih ringan. Aroma khas sampah memang belum hilang sepenuhnya, tetapi intensitasnya turun drastis hingga membuat para petugas saling berpandangan heran.
Di tengah tumpukan sampah, sekelompok relawan dari Gerakan Saka melakukan aksi yang tidak biasa. Mereka tidak hanya mengamati kondisi lapangan, tetapi langsung mendekati genangan air lindi cairan hitam pekat hasil peresapan sampah dan berinteraksi dengannya.
Muhammad Ansar, penggerak utama Relawan Gerakan Saka, memimpin aksi tersebut dengan percaya diri. Ia menyemprotkan cairan bernama Bio Saka ke permukaan air lindi, lalu mengajak orang-orang di sekitarnya untuk membuktikan hasilnya secara langsung.
“Silakan dicium,” ujarnya tenang.
Ajakan itu sempat memicu keraguan. Air lindi selama ini dikenal memiliki bau menyengat yang membuat siapa pun refleks menjauh. Namun rasa penasaran akhirnya mendorong beberapa orang untuk mencoba.
Perubahan yang Terlihat Seketika

Petugas, aparat, dan warga mulai mendekat. Mereka mencium air lindi dengan hati-hati, lalu menunjukkan reaksi yang berubah cepat dari ragu menjadi kaget.
Bau menyengat yang biasanya langsung terasa ternyata hampir tidak muncul. Saat mereka menyentuh air tersebut, teksturnya juga terasa berbeda dan tidak lagi lengket.
Momen ini menjadi bukti awal bahwa perubahan bisa terjadi dalam waktu singkat.
Ansar menegaskan bahwa aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi. Ia membawa pengalaman lapangan dari berbagai lokasi, termasuk TPA 03 Cipeucang di Tangerang Selatan.
Saat longsor sampah terjadi di sana, warga terus mengeluhkan bau yang semakin parah. Kondisi itu memicu keresahan yang cukup besar.
Namun setelah timnya turun dan menerapkan Bio Saka, keluhan warga perlahan berhenti.
“Setelah kami intervensi, warga tidak lagi mengeluhkan bau,” jelasnya.
Pengalaman itu memperkuat keyakinannya untuk mencoba solusi serupa di Bantar Gebang.
Tantangan Besar di Bantar Gebang
Bantar Gebang menjadi salah satu pusat pengelolaan sampah terbesar di Indonesia. Setiap hari, ribuan ton sampah masuk ke area ini dan menumpuk dalam skala besar.
Kondisi tersebut membuat persoalan bau hampir tidak terhindarkan. Warga sekitar bahkan sudah terbiasa hidup berdampingan dengan aroma menyengat.
Ansar melihat situasi ini sebagai tantangan besar sekaligus peluang untuk menghadirkan solusi baru.
Ia berharap pemerintah memberi ruang bagi inovasi seperti Bio Saka. Ia juga membuka peluang kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup agar teknologi ini bisa diterapkan lebih luas.
“Kalau ada dukungan, kami siap menerapkan metode ini seperti di Cipeucang,” katanya.
Relawan Bergerak Tanpa Kepentingan
Gerakan Saka tidak mengejar keuntungan. Ansar menekankan bahwa seluruh kegiatan mereka berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan.
Relawan datang dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Mereka bergerak tanpa instruksi resmi dan tanpa dukungan anggaran besar.
Mereka membawa satu tujuan utama: menciptakan udara yang lebih bersih dan mengurangi dampak buruk sampah.
“Ini bentuk pengabdian,” ujar Ansar.
Semangat tersebut terlihat dari keterlibatan langsung para relawan di lapangan. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi ikut merasakan kondisi yang selama ini dihadapi masyarakat sekitar.
Pendekatan Teknologi yang Berbeda
Bio Saka menjadi inti dari gerakan ini. Ansar mengembangkan teknologi ini dengan pendekatan yang tidak biasa.
Ia menjelaskan bahwa Bio Saka tidak mengandalkan material, tetapi menggunakan konsep berbasis gelombang. Pendekatan ini membuat kebutuhan biaya menjadi jauh lebih rendah dibanding metode konvensional.
Ia bahkan mengklaim satu botol Bio Saka bisa bertahan hingga puluhan tahun. Untuk area sebesar Bantar Gebang, ia memperkirakan hanya membutuhkan sekitar 5 mililiter untuk penggunaan beberapa tahun ke depan.
Meski terdengar ambisius, hasil di lapangan mulai menarik perhatian berbagai pihak.
Jika terbukti konsisten, teknologi ini berpotensi menjadi solusi baru dalam pengelolaan sampah nasional.
Kesaksian Langsung dari Lapangan
Respons positif datang dari berbagai pihak, termasuk aparat yang bertugas di sekitar lokasi.
Kasim, Kepala Pos Polisi Sumur Batu, mengaku sudah lama menghadapi kondisi lingkungan di Bantar Gebang.
“Air lindi biasanya tidak bisa didekati,” katanya.
Setelah penyemprotan Bio Saka, ia mencoba menyentuh air tersebut tanpa ragu. Ia bahkan tidak mencium bau apa pun setelahnya.
Menurutnya, penyemprotan menggunakan drone juga memberikan dampak cepat. Dalam hitungan menit, bau berkurang hingga sekitar 60–70 persen.
Pengawas dan Aparat Menguatkan Temuan

Dedi Abdul Rodjak, pengawas TPST, awalnya meragukan metode tersebut. Namun ia mengubah pandangannya setelah melihat hasil langsung di lapangan.
Ia mencatat penurunan bau mencapai 70–80 persen. Selain itu, air lindi terlihat lebih netral dari segi warna dan tekstur.
Sementara itu, Ahmad Nur dari Babinsa Sumur Batu juga merasakan perubahan yang sama.
“Biasanya bau dan lengket, sekarang tidak,” ujarnya singkat.
Pengalaman mereka memperkuat kesan bahwa metode ini memberi dampak nyata.
Hambatan Teknis Masih Ada
Tim relawan tetap menghadapi sejumlah kendala. Mereka menggunakan drone untuk menyemprotkan Bio Saka ke area luas.
Namun kondisi lapangan yang kompleks, ditambah arah angin, membuat beberapa titik sulit dijangkau. Hambatan tersebut menyebabkan penyebaran tidak merata.
Ansar menganggap situasi ini sebagai bagian dari proses pengembangan. Ia yakin perbaikan teknis bisa meningkatkan efektivitas di masa depan.
Harapan di Tengah Masalah Besar
Masalah sampah di Indonesia terus berkembang dan menjadi perhatian luas. Volume sampah meningkat, sementara solusi yang ada belum sepenuhnya efektif.
Dalam situasi seperti ini, setiap inovasi memiliki arti penting.
Demonstrasi sederhana di Bantar Gebang menunjukkan kemungkinan baru. Air lindi yang biasanya berbau menyengat kini bisa berubah dalam waktu singkat.
Perubahan ini memberi harapan bagi masyarakat sekitar.
Harapan untuk hidup di lingkungan yang lebih sehat.
Harapan untuk menghirup udara yang lebih bersih.
Menuju Solusi Lebih Luas
Ansar ingin membawa inovasi ini ke tingkat nasional. Ia percaya Indonesia membutuhkan pendekatan baru dalam mengatasi persoalan sampah.
Ia menyebut teknologi ini bisa menjangkau banyak daerah dengan sumber daya yang relatif kecil.
Pengalaman di beberapa lokasi sebelumnya memperkuat keyakinannya.
Kini, ia fokus memperluas dampak agar lebih banyak wilayah merasakan manfaatnya.
Antara Ragu dan Harapan

Di akhir kegiatan, suasana di Bantar Gebang terasa berbeda. Udara yang biasanya berat kini memberi ruang bagi rasa penasaran.
Sebagian orang masih meragukan hasil tersebut. Hal itu wajar dalam setiap inovasi baru.
Namun sebagian lainnya mulai percaya setelah melihat dan merasakan langsung perubahan.
Langkah kecil ini menghadirkan optimisme di tengah persoalan besar.
“Semoga ini menjadi solusi untuk Indonesia,” kata Ansar.
Untuk sesaat, Bantar Gebang tidak hanya dipenuhi bau sampah, tetapi juga harapan baru. (rull/biosaka.co.id)









