Penyebab Stroke yang Tak Banyak Disangka, Kebiasaan Mengorok Saat Tidur Bisa Jadi Tanda Bahaya

- Penulis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sumber foto: cdn1-production-images-kly.akamaized.net

sumber foto: cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Alamorganik.com-Stroke sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, dan pola hidup tidak sehat. Namun, ada satu kebiasaan yang kerap dianggap biasa tetapi perlu diwaspadai, yaitu mengorok keras saat tidur.

Sebagian orang menganggap mengorok hanya terjadi karena kelelahan atau posisi tidur yang kurang nyaman. Padahal, kebiasaan mengorok keras dan berulang bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA), yaitu gangguan tidur yang menyebabkan saluran pernapasan tersumbat sementara.

Kondisi tersebut membuat seseorang mengalami henti napas berulang kali selama tidur. Akibatnya, kadar oksigen dalam darah dapat menurun dan kualitas tidur terganggu. Jika tidak tertangani, OSA berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk stroke.

Dr. Pramod Krishnan, dokter spesialis neurologi, epileptologi, dan kedokteran tidur di Manipal Hospital, Bengaluru, menjelaskan bahwa masyarakat perlu mewaspadai kebiasaan mendengkur karena kondisi tersebut dapat menandakan gangguan tidur yang lebih serius.

Meski demikian, tidak semua orang yang mengorok mengalami OSA atau pasti terkena stroke. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Lantas, bagaimana kebiasaan mengorok berkaitan dengan risiko stroke? Simak penjelasannya berikut ini.

Mengenal Obstructive Sleep Apnea (OSA)

sumber foto: smilewithaurevo.com

Obstructive sleep apnea atau OSA merupakan gangguan tidur yang menyebabkan saluran pernapasan bagian atas menyempit atau tersumbat ketika seseorang tidur.

Penyumbatan tersebut menghambat aliran udara menuju paru-paru sehingga pernapasan berhenti sementara. Setelah itu, tubuh kembali berusaha mengambil napas. Gangguan ini dapat terjadi berulang kali sepanjang malam tanpa disadari penderitanya.

Biasanya, pasangan atau anggota keluarga lebih dahulu mengenali gejala OSA. Mereka mungkin mendengar dengkuran keras, melihat jeda napas, atau menyaksikan penderita tiba-tiba terbangun sambil tersengal.

Selain mengorok, OSA juga dapat menimbulkan gejala berikut:

    • Sering terbangun pada malam hari.

    • Terengah-engah atau tersedak saat tidur.

    • Mengalami kantuk berlebihan pada siang hari.

    • Bangun tidur dengan tubuh tidak segar.

    • Sering mengalami sakit kepala pada pagi hari.

    • Sulit berkonsentrasi dan mudah lelah.

Jika mengalami beberapa gejala tersebut, segera konsultasikan kondisi Anda kepada dokter.

Bagaimana Mengorok Berkaitan dengan Risiko Stroke?

Hubungan antara OSA dan stroke berkaitan dengan gangguan pernapasan serta penurunan kadar oksigen yang terjadi berulang kali selama tidur.

Ketika saluran pernapasan tersumbat, kadar oksigen dalam darah dapat menurun. Tubuh kemudian merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan aktivitas sistem saraf sehingga tekanan darah dan detak jantung mengalami perubahan.

Jika gangguan ini terus berulang, tubuh dapat mengalami tekanan fisiologis dalam jangka panjang. OSA juga berkaitan dengan hipertensi dan gangguan irama jantung yang dapat meningkatkan risiko stroke.

Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah secara bertahap. Sementara itu, fibrilasi atrium atau gangguan irama jantung tertentu dapat memicu pembentukan bekuan darah yang berpotensi menghambat aliran darah menuju otak.

Baca Juga :  Sarapan Simple Tapi Powerful! Alpukat + Buah Naga + Telur untuk Energi Maksimal

Meski begitu, mengorok tidak berarti seseorang pasti mengalami stroke. Kebiasaan tersebut hanya menjadi salah satu petunjuk yang perlu diperiksa, terutama jika disertai henti napas saat tidur dan kantuk berlebihan pada siang hari.

Faktor Risiko Stroke yang Perlu Diwaspadai

Selain OSA, sejumlah kondisi kesehatan dan kebiasaan sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko stroke. Berikut beberapa faktor yang perlu Anda perhatikan.

1. Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko utama stroke. Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat merusak dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah otak.

Periksa tekanan darah secara rutin dan ikuti anjuran dokter jika mengalami hipertensi.

2. Kebiasaan Merokok

Zat berbahaya dalam rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah. Berhenti merokok menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dan mengurangi risiko stroke.

3. Kolesterol Tinggi

Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat memicu penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi tersebut mempersempit aliran darah dan meningkatkan risiko penyumbatan.

Terapkan pola makan seimbang, rutin berolahraga, dan periksa kadar kolesterol secara berkala.

4. Diabetes Melitus

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke.

Penderita diabetes perlu menjaga gula darah melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, pemeriksaan rutin, dan pengobatan sesuai arahan dokter.

5. Obesitas dan Kurang Aktivitas Fisik

Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Obesitas juga berkaitan dengan munculnya OSA.

Untuk mengurangi risiko tersebut, biasakan berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau melakukan olahraga sesuai kemampuan tubuh.

6. Pola Makan Tidak Sehat

sumber foto: rey.id

Konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan stroke.

Sebaliknya, perbanyak buah, sayuran, biji-bijian, dan sumber protein bergizi untuk membantu menjaga kesehatan pembuluh darah.

7. Konsumsi Alkohol dan Narkoba Ilegal

Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan mengganggu kesehatan jantung. Penggunaan narkoba ilegal seperti kokain juga dapat meningkatkan risiko stroke akibat gangguan pembuluh darah.

Faktor Risiko Stroke yang Tidak Bisa Diubah

Selain kebiasaan hidup, beberapa kondisi juga dapat meningkatkan risiko stroke dan tidak bisa diubah sepenuhnya.

    • Usia: Risiko stroke cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

    • Riwayat stroke: Orang yang pernah mengalami stroke memiliki risiko serangan berikutnya.

    • Fibrilasi atrium: Gangguan irama jantung ini dapat memicu pembentukan bekuan darah.

    • Gagal jantung: Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan jantung memompa darah.
Baca Juga :  Manfaat Kulit Bawang untuk Membantu Penyembuhan Penyakit Prostat Secara Alami

    • Penyakit ginjal kronis: Gangguan ginjal berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Meskipun Anda tidak bisa mengubah beberapa faktor tersebut, Anda tetap dapat menurunkan risiko stroke dengan melakukan pemeriksaan kesehatan dan menjalani perawatan secara rutin.

Cara Mengurangi Risiko Stroke Sejak Dini

Menjaga kesehatan otak dan pembuluh darah membutuhkan kebiasaan yang konsisten. Anda bisa memulainya dengan beberapa langkah sederhana berikut:

    1. Periksa tekanan darah secara rutin.

    1. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan batasi garam berlebihan.

    1. Lakukan aktivitas fisik secara teratur.

    1. Berhenti merokok dan hindari asap rokok.

    1. Kendalikan kadar gula darah dan kolesterol.

    1. Jaga kualitas tidur dan perhatikan kebiasaan mengorok.

    1. Konsultasikan dugaan OSA kepada dokter.

Jika dokter mendiagnosis OSA, pasien dapat menjalani penanganan sesuai kondisi dan tingkat keparahannya. Salah satu pilihan terapi adalah continuous positive airway pressure (CPAP), yaitu alat yang membantu menjaga saluran pernapasan tetap terbuka selama tidur.

Kenali Gejala Stroke dan Segera Cari Pertolongan

Selain memahami faktor risikonya, Anda juga perlu mengenali gejala stroke. Gunakan prinsip FAST untuk membantu mengenali tanda-tandanya.

    • Face (Wajah): Salah satu sisi wajah terlihat menurun ketika tersenyum.

    • Arms (Lengan): Salah satu lengan terasa lemah atau sulit diangkat.

    • Speech (Bicara): Bicara mendadak pelo, tidak jelas, atau sulit memahami percakapan.

    • Time (Waktu): Segera cari pertolongan medis darurat ketika gejala muncul.

Stroke juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan mendadak, kehilangan keseimbangan, pusing berat, atau sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba.

Jangan menunggu gejala menghilang dengan sendirinya. Segera bawa penderita ke rumah sakit dan catat waktu pertama kali gejala muncul. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mengurangi risiko kerusakan otak dan komplikasi.

Kesimpulan

sumber foto: myoona.id

Kebiasaan mengorok keras dan berulang saat tidur tidak boleh selalu dianggap sebagai hal biasa. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA), gangguan tidur yang menyebabkan saluran pernapasan tersumbat sementara dan menurunkan kadar oksigen dalam darah.

OSA dapat meningkatkan risiko stroke karena gangguan ini memengaruhi tekanan darah dan kesehatan pembuluh darah. Meski demikian, tidak semua orang yang mengorok mengalami OSA atau berpotensi terkena stroke.Selain gangguan tidur, beberapa kondisi seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, obesitas, dan kurang beraktivitas juga dapat meningkatkan risiko stroke.

Untuk menjaga kesehatan, terapkan pola makan seimbang, rutin berolahraga, hindari rokok, dan periksa tekanan darah secara berkala. Jika Anda sering mengorok keras, mengalami henti napas saat tidur, atau merasa sangat mengantuk pada siang hari, segera periksakan diri ke dokter. (rull*)

Berita Terkait

Lengkuas untuk Panu: Manfaat dan Cara Penggunaan yang Aman
Infused Water Lemon, Kurma, dan Jahe untuk Mendukung Pengelolaan Berat Badan
5 Makanan yang Bisa Mendukung Pemulihan Setelah Kemoterapi dan Radiasi
7 Racikan Lulur Tubuh Alami untuk Berbagai Masalah Kulit, Bisa Dicoba di Rumah
Wedang Empon-Empon atau Wedang Pokak, Minuman Rempah Tradisional Nusantara yang Menghangatkan Tubuh
Jangan Anggap Sepele Benjolan di Tubuh! Kenali 6 Jenis Benjolan yang Perlu Diwaspadai
5 Herbal untuk Kesehatan Dada: Manfaat dan Risiko yang Perlu Diketahui
Jangan Sepelekan Daun Labu Siam! Ini 6 Manfaatnya untuk Kesehatan dan Cara Mengolahnya

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:02 WIB

Penyebab Stroke yang Tak Banyak Disangka, Kebiasaan Mengorok Saat Tidur Bisa Jadi Tanda Bahaya

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:02 WIB

Lengkuas untuk Panu: Manfaat dan Cara Penggunaan yang Aman

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Infused Water Lemon, Kurma, dan Jahe untuk Mendukung Pengelolaan Berat Badan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:02 WIB

5 Makanan yang Bisa Mendukung Pemulihan Setelah Kemoterapi dan Radiasi

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:02 WIB

7 Racikan Lulur Tubuh Alami untuk Berbagai Masalah Kulit, Bisa Dicoba di Rumah

Berita Terbaru