Alamorganik.com-Sebuah video kiriman Dwijo dari Malang menceritakan pengalaman Yahmi, seorang pasien kanker serviks yang menjalani kemoterapi sambil menggunakan Nlevel1 Aktivasi 6 (N1 A6).
Dwijo bersama Mahfud mendampingi Yahmi selama sekitar dua bulan. Dalam periode tersebut, mereka menggunakan N1 A6 dengan beberapa cara, seperti menyemprotkannya pada area yang sakit, mencampurkannya ke air minum, serta menggunakan Biosaka Basic untuk rendaman kaki.
Yahmi tetap menjalani pengobatan medis sesuai arahan dokter. Ia juga mengikuti jadwal kemoterapi yang telah ditentukan.
Menurut keterangan dalam video, Yahmi sudah menjalani tiga dari lima sesi kemoterapi yang dokter rencanakan. Pendamping kemudian menceritakan perubahan kondisi yang mereka lihat selama proses tersebut.
Cara Pendamping Menggunakan N1 A6
Selama mendampingi Yahmi, Dwijo dan Mahfud menerapkan beberapa perlakuan rutin. Mereka menggunakan N1 A6 dan Biosaka Basic setiap hari.
Berikut cara yang mereka lakukan:
- N1 A6 pada air minum
Pendamping menyemprotkan N1 A6 ke air minum yang kemudian Yahmi konsumsi setiap hari.
- Rendaman kaki dengan Biosaka Basic
Yahmi merendam kaki menggunakan 5 liter air hangat yang dicampur 30 ml Biosaka Basic. Ia melakukan cara tersebut setiap hari.
- Penyemprotan pada area yang sakit
Pendamping menyemprotkan N1 A6 pada area tubuh yang mengalami keluhan sebanyak tiga hingga lima kali sehari.
Metode tersebut merupakan bagian dari pengalaman pendampingan yang Dwijo bagikan melalui video. Sampai saat ini, penggunaan N1 A6 dengan cara tersebut belum memiliki bukti klinis yang cukup untuk membuktikan manfaatnya dalam mengatasi kanker serviks.
Yahmi Tetap Menjalani Kemoterapi
Dalam kesaksian yang dibagikan, Yahmi telah menjalani tiga dari lima sesi kemoterapi. Pendamping menyebut dokter melihat kondisi jaringan kanker yang mengering setelah kemoterapi ketiga.
Yahmi kemudian menunggu jadwal tindakan medis untuk menangani jaringan kanker yang menurut keterangan pendamping sudah mati.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa N1 A6 menyebabkan perubahan pada jaringan kanker. Yahmi juga menjalani kemoterapi selama periode tersebut.
Kemoterapi merupakan salah satu terapi medis untuk menangani kanker. Dokter dapat menilai respons pasien melalui pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai kondisi masing-masing.
Karena itu, pasien perlu mengikuti evaluasi dokter untuk mengetahui perkembangan penyakit secara objektif. Pemeriksaan lanjutan juga membantu dokter menentukan terapi berikutnya.
Klaim N1 A6 untuk Kanker Masih Memerlukan Penelitian
Dalam video tersebut, pendamping menyampaikan keyakinan bahwa N1 A6 dapat membantu tubuh melawan sel kanker. Mereka juga menghubungkan penggunaan N1 A6 dengan perubahan kondisi Yahmi selama menjalani pengobatan.
Namun, bukti klinis yang tersedia belum memastikan bahwa N1 A6 dapat membunuh sel kanker, menyembuhkan kanker serviks, atau meningkatkan efektivitas kemoterapi.
Pengalaman satu pasien juga tidak cukup untuk membuktikan efektivitas suatu bahan sebagai terapi kanker. Peneliti membutuhkan penelitian dengan metode yang tepat untuk menilai keamanan dan manfaat sebuah terapi.
Pasien kanker serviks sebaiknya tetap mengikuti rencana pengobatan dari dokter spesialis. Jika pasien ingin menggunakan bahan tambahan seperti N1 A6, mereka perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Langkah tersebut penting karena bahan tambahan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan atau berpotensi mengganggu pengobatan tertentu.
Pengalaman Pribadi Bukan Bukti Kesembuhan
Kisah Yahmi menunjukkan pengalaman pribadi seorang pasien yang menjalani kemoterapi sekaligus mengikuti pendampingan dengan N1 A6.
Perubahan kondisi selama pengobatan memang dapat menjadi pengalaman yang menarik untuk dibagikan. Namun, pengalaman tersebut belum dapat membuktikan bahwa N1 A6 menyembuhkan kanker serviks.
Dokter tetap membutuhkan hasil pemeriksaan untuk menilai perkembangan kanker. Pemeriksaan tersebut dapat membantu menentukan apakah terapi memberikan respons sesuai target dan langkah apa yang perlu dilakukan selanjutnya.
Karena itu, pasien dan keluarga sebaiknya tidak menghentikan atau mengganti terapi medis hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau testimoni. Mereka perlu mendiskusikan setiap penggunaan bahan tambahan dengan dokter yang menangani pasien. (rull/3GO)









