Alamorganik.com – Seorang petani bawang merah di Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, membagikan pengalaman budidayanya dengan menerapkan teknologi SAKA. Menariknya, ia mengaku tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia selama membudidayakan bawang merah tersebut.
Petani bernama Nanang itu menceritakan pola perawatan tanamannya dalam percakapan pada 11 Agustus 2026. Ia menyebut penggunaan benih sendiri menjadi salah satu kunci dalam menjaga kondisi tanaman sejak awal.
Menurut Nanang, ia memilih benih yang berasal dari tanaman sehat dan mengetahui riwayat benih tersebut. Ia juga menyiapkan benih sendiri sebelum memasuki masa tanam.
Benih Sendiri Jadi Kunci Awal
Nanang mengatakan dirinya pernah mencoba benih bawang merah siap tanam yang ia beli. Namun, hasilnya justru tidak sesuai harapan karena ia tidak mengetahui riwayat benih tersebut.
“Untuk bawang saya perlakukan dari awal benih sendiri yang sudah organik, saya asapi. Pernah beli benih siap tanam malah gagal karena tidak tahu riwayatnya,” ungkap Nanang.
Ia kemudian kembali menggunakan benih dari tanaman yang sudah ia kenal kondisinya. Menurutnya, cara tersebut membantu menjaga kualitas tanaman sekaligus menyediakan benih untuk musim berikutnya.
Bagi Nanang, benih bukan sekadar bahan tanam. Ia memilih tanaman sehat untuk menghasilkan benih yang nantinya dapat ia gunakan dan wariskan kembali.
Mengandalkan Rendaman Rumput, Urine N1, dan Biosaka
Dalam pola budidayanya, Nanang menggunakan rendaman rumput (RR), urine N1, dan Biosaka secara bergantian. Ia menyebut aplikasi tersebut mengikuti SOP yang biasa ia gunakan.
Pada umur lima hari setelah tanam, ia memberikan RR dan urine N1. Kemudian, pada umur sekitar 10 hari, ia menggunakan Biosaka. Selanjutnya, pada umur 15 hari, ia kembali memberikan RR dan urine N1.
“Umur lima hari RR plus urine, umur 10 hari Biosaka, umur 15 hari urine dan RR, terus sampai panen,” jelasnya.
Untuk urine N1, Nanang menyebut penggunaan sekitar 3–4 liter per tangki. Saat tanaman menghadapi serangan hama, ia dapat meningkatkan jumlahnya hingga sekitar 7 liter per tangki.
Ia juga menggunakan asap cair ketika menemukan serangan hama tertentu. Menurut keterangannya, ia mencampurkan sekitar satu gelas asap cair dalam satu tangki dan hanya menggunakannya ketika tanaman mengalami serangan.
Mengamati Tanaman Menjadi Bagian Penting
Nanang tidak hanya mengandalkan penyemprotan. Ia juga rutin mengamati kondisi tanaman untuk mengetahui perubahan yang terjadi di lahan.
Ia mengatakan hama yang sering menyerang bawang merah antara lain ulat. Menurut pengalamannya, kombinasi urine N1 dan asap cair membantu mengatasi gangguan tersebut.
Sementara itu, ia juga memperhatikan gejala serangan jamur. Jika menemukan tanaman yang menunjukkan gejala tertentu, ia memilih mencabut tanaman tersebut agar masalah tidak menyebar ke tanaman lain.
“Kalau serangan jamur, ada satu atau dua, saya cabut,” katanya.
Ia juga mengaku pernah menemukan area dengan kondisi pH yang menurut pengamatannya mengalami perubahan. Saat kondisi tersebut muncul, ia menghentikan penyemprotan selama beberapa hari sebelum kembali melakukan perawatan secara bertahap.
Nanang menilai pengamatan rutin menjadi kunci penting dalam budidaya bawang merah. Petani perlu segera mengenali perubahan pada daun dan kondisi tanaman agar dapat mengambil tindakan lebih cepat.
Teknologi SAKA Diklaim Membantu Budidaya
Nanang menyebut teknologi SAKA menjadi bagian dari pola budidaya yang ia terapkan. Ia mengombinasikan teknologi tersebut dengan RR, urine N1, dan Biosaka sebagai bagian dari perawatan tanaman.
Dalam konsep yang ia yakini, bahan-bahan tersebut memberikan sinyal positif kepada tanaman dan membantu tanaman merespons kondisi lingkungan.
Namun, klaim mengenai kemampuan teknologi SAKA, RR, urine N1, maupun Biosaka dalam meningkatkan kesehatan tanaman masih memerlukan pembuktian melalui penelitian ilmiah yang terukur.
Pengalaman Nanang merupakan praktik budidaya yang ia lakukan di lahannya. Hasil yang ia peroleh tidak otomatis menunjukkan hasil yang sama pada semua lahan, varietas, kondisi tanah, maupun lingkungan.
Petani Diminta Mengenali Kondisi Tanaman
Dari pengalaman Nanang, ia menekankan pentingnya memilih benih sendiri dari tanaman sehat serta mengamati perkembangan tanaman sejak awal.
Ia juga mengingatkan petani agar tidak hanya fokus pada pemberian bahan perawatan. Pengamatan terhadap daun, akar, hama, penyakit, kondisi tanah, dan perkembangan umbi tetap menjadi bagian penting dalam budidaya.
“Dan berdoa,” ujar Nanang ketika membagikan prinsip yang ia pegang dalam menjalankan budidaya bawang merah.
Pengalaman petani di Ponorogo tersebut menunjukkan salah satu pola budidaya bawang merah yang mengandalkan benih sendiri dan teknologi SAKA. Klaim tanpa pestisida dan pupuk kimia dalam praktik tersebut tetap merupakan pengalaman lapangan yang perlu diuji lebih lanjut melalui pengamatan dan penelitian yang objektif. (rull/3GO)









