Alamorganik.com– – Sejumlah petani di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, mencoba menerapkan teknologi SAKA pada lahan padi sawah. Perlakuan tersebut mencakup lahan sekitar 4 hektare.
Petani menjalankan teknologi SAKA sejak tahap persiapan benih hingga tanaman memasuki masa pembungaan. Pak Oding dan Pak Eky mendampingi petani dalam menjalankan setiap tahapan di lapangan.
Dari lahan tersebut, sebagian petani masih menggunakan pupuk kimia. Namun, empat petani sudah mulai lepas dari penggunaan pupuk kimia dalam pola budidayanya.
Penerapan teknologi SAKA menggunakan beberapa bahan dan perlakuan, seperti Biosaka Basic, N1A6, Kohe N1A6, serta rendaman rumput atau RR. Petani menyesuaikan beberapa dosis dengan kondisi lahan.
Mulai dari Perendaman Benih
Petani memulai perlakuan dari tahap benih. Mereka merendam benih menggunakan air bersih sebanyak 10–15 liter.
Dalam proses tersebut, petani menambahkan Biosaka Basic sekitar 10–15 mililiter. Mereka juga menggunakan N1A6 sebanyak 1–3 semprotan sesuai perlakuan yang diterapkan.
Setelah tahap benih selesai, petani melanjutkan persiapan lahan sebelum melakukan penanaman.
Pengolahan Lahan dan Perlakuan N1A6
Pada tahap pengolahan lahan, petani memasukkan Kohe N1A6 dengan dosis sesuai kondisi lahan.
Petani juga melakukan penyemprotan N1A6 menggunakan hand sprayer. Mereka mencatat penggunaan sekitar 7–10 semprotan per tangki.
Setelah itu, petani menggenangi petakan sawah dan memberikan rendaman rumput atau RR dengan metode kocor. Mereka menyesuaikan dosis dengan kondisi lahan.
Bibit Mendapat Perlakuan Sebelum Tandur
Sebelum melakukan tandur, petani mencelupkan bibit ke dalam larutan Biosaka Basic.
Mereka menggunakan sekitar 10–15 mililiter Biosaka Basic untuk 10–15 liter air bersih. Setelah mendapatkan perlakuan, bibit langsung masuk ke petakan sawah.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian budidaya yang petani jalankan bersama pendamping di lapangan.
Aplikasi Setelah Tanam
Petani kembali memberikan Biosaka Basic setelah tanaman tumbuh. Mereka melakukan aplikasi setiap 7–10 hari dengan dosis sekitar 40 mililiter per tangki.
Selain itu, petani memasang parfum urine dengan jarak sekitar 5–10 meter. Mereka juga menggunakan urine N1A6 sebanyak 2 liter per tangki jika kondisi tanaman membutuhkan perlakuan tersebut.
Petani kemudian mengaplikasikan RR melalui metode semprot atau kocor pada beberapa fase pertumbuhan. Mereka mencatat aplikasi pada usia 14 HST, 21 HST, dan 35 HST.
Perlakuan Saat Tanaman Memasuki Fase Generatif
Saat tanaman memasuki masa bunting hingga selesai pembungaan, petani menggunakan MKP Biosaka dengan dosis sekitar 40 mililiter per tangki.
Pada fase ini, petani tetap mengamati kondisi tanaman dan mengatur perlakuan sesuai kebutuhan. Mereka juga menjaga pengairan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik sampai memasuki masa panen.
Hasil Panen Dilaporkan 7,5 Ton per Hektare
Dari penerapan tersebut, petani melaporkan hasil panen sekitar 7,5 ton per hektare. Mereka juga menyebut tanaman tumbuh sehat dan tidak mengalami serangan hama maupun penyakit yang berarti selama budidaya.
Capaian tersebut menjadi pengalaman lapangan yang menarik, terutama karena empat petani sudah mulai meninggalkan penggunaan pupuk kimia.
Meski demikian, hasil panen tidak hanya bergantung pada satu perlakuan. Kondisi tanah, varietas, cuaca, pengairan, pemupukan, serta pengelolaan hama dan penyakit ikut menentukan produktivitas sawah.
Karena itu, petani yang ingin mencoba teknologi SAKA sebaiknya melakukan uji coba terlebih dahulu pada sebagian lahan. Catat penggunaan bahan, biaya produksi, pertumbuhan tanaman, dan hasil panen untuk melihat dampaknya secara lebih objektif.
Petani Perlu Menghitung Efisiensi
Pengurangan penggunaan pupuk kimia dapat membantu petani menekan biaya produksi jika penerapannya sesuai dengan kondisi lahan. Namun, petani tetap perlu menghitung seluruh biaya yang keluar selama satu musim tanam.
Penghematan biaya tidak otomatis berarti keuntungan meningkat. Petani perlu membandingkan biaya produksi dengan hasil panen dan harga jual gabah.
Pengalaman petani Gunung Masigit dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani lain. Mereka bisa mengamati tahapan yang dilakukan, lalu menyesuaikannya dengan kondisi sawah masing-masing.
Teknologi SAKA juga perlu diterapkan dengan pendampingan dan pencatatan yang baik. Dengan begitu, petani dapat mengetahui perlakuan mana yang benar-benar memberi manfaat pada lahannya.
Hasil 7,5 ton per hektare di Gunung Masigit menjadi salah satu catatan dari penerapan tersebut. Petani lain dapat menjadikannya sebagai referensi untuk melakukan uji coba, bukan sebagai jaminan bahwa hasil yang sama akan muncul di setiap lahan. (rull/3GO)









