Alamorganik.com-Pak Slamet, petani di Desa Ngargosari, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, membudidayakan tembakau dengan metode Biosaka. Ia menggunakan Biosaka dalam perawatan tanaman dan mengatur pemupukan dengan metode kocor.
Menurut informasi yang dibagikan, Pak Slamet menyemprot tanaman tembakau sebanyak empat kali selama masa pertumbuhan. Ia menggunakan dosis 15 mililiter Biosaka untuk setiap tangki semprot.
Penyemprotan dilakukan saat tanaman berusia 14, 30, 40, dan 50 hari setelah tanam (HST).
Dengan populasi sekitar 2.000 tanaman, Pak Slamet juga memberikan pupuk melalui metode kocor. Cara ini membuat petani dapat mengarahkan larutan pupuk langsung ke area tanaman.
Jadwal Penyemprotan Biosaka
Pak Slamet melakukan penyemprotan Biosaka pada empat tahap pertumbuhan tanaman.
Pada umur 14 HST, ia menyemprot tanaman dengan dosis 15 ml per tangki. Ia mengulangi penyemprotan pada umur 30, 40, dan 50 HST dengan dosis yang sama.
Penyemprotan tersebut menjadi bagian dari pola perawatan tembakau yang ia terapkan selama masa pertumbuhan.
Pemupukan dengan Metode Kocor
Selain penyemprotan, Pak Slamet memberikan pupuk melalui metode kocor. Ia menyesuaikan jenis dan dosis pupuk berdasarkan umur tanaman.
Saat tanaman berusia 14 HST, ia mencampurkan satu gelas urea, dua gelas ZA, dan satu gelas Fortila ke dalam 20 liter air.
Setelah mencampurkan seluruh bahan, ia mengocorkan larutan sebanyak satu gelas untuk setiap tanaman.
Pada umur 35 HST, ia kembali melakukan pemupukan. Kali ini, ia menggunakan dua gelas ZA dan satu gelas Fortila dalam 20 liter air.
Ia kemudian memberikan satu gelas larutan kepada setiap tanaman melalui metode kocor.
Pola Perawatan Tembakau
Pola budidaya yang diterapkan Pak Slamet menggabungkan penyemprotan Biosaka dan pemupukan kocor. Ia mengatur jadwal perawatan berdasarkan umur tanaman agar penggunaan bahan tetap terukur.
Menurut informasi yang dibagikan, metode tersebut membantu menghemat biaya budidaya. Namun, hasil dan efisiensi penggunaan Biosaka dapat berbeda pada setiap lahan, varietas, kondisi tanaman, serta cara budidaya.
Biosaka juga bukan pengganti pupuk dalam pengertian pemenuhan unsur hara tanaman. Petani tetap perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi tembakau, kondisi tanah, air, serta teknik budidaya yang sesuai.
Pengalaman Pak Slamet dapat menjadi catatan praktik lapangan bagi petani yang ingin mempelajari penggunaan Biosaka pada tanaman tembakau. Sebelum menerapkannya dalam skala luas, petani sebaiknya membandingkan hasil, biaya, dan kondisi tanaman melalui uji coba pada sebagian lahan. (rull/3GO)









