Investigasi: Jejak Gelap Pupuk Kimia dan Gerakan Biosaka yang Menghidupkan Pertanian Organik

- Penulis

Kamis, 4 September 2025 - 13:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, alamorganik.com – Hamparan sawah yang menghijau di Indonesia menyimpan paradoks serius: pupuk kimia yang dijadikan andalan panen justru melemahkan tanah dan menjerat petani dalam ketergantungan.

Investigasi albrita.com mengungkap bagaimana dominasi pupuk kimia menempatkan pertanian nasional di ambang kehancuran—sekaligus muncul harapan baru lewat gerakan mandiri bernama Biosaka yang digagas petani bernama Muhammad Ansar.

Di Padang Pariaman, petani seperti Harun (47) menyuarakan dilemanya:  “Kalau tidak pakai urea, hasil turun. Sementara pupuk organik butuh waktu lama.” akuinya.

Hal ini mencerminkan realita nasional: pupuk kimia memberi hasil instan namun merusak—tanah mengeras, mikroba berkurang, dan setiap panen butuh dosis lebih tinggi.

Data Kementerian Pertanian 2024 mencatat konsumsi pupuk kimia Indonesia mencapai 9 juta ton per tahun, sedangkan pupuk organik baru sekitar 1,2 juta ton— mayoritas diproduksi kelompok tani kecil.

Di wilayah pesisir terjadi ledakan alga akibat limpasan nitrogen, sementara di Lamongan tanah sawah yang rutin diberi urea kini kehilangan keseimbangan pH.

“Kalau dulu tanah gembur, sekarang keras. Cacing tanah sudah jarang kelihatan,” keluh Suriyadi.

Para ekolog memperingatkan: pola ini bisa mengakibatkan hilangnya kesuburan lahan secara permanen.

Baca Juga :  Vibrasi Energi Seri 1: Mengenal Pukim, Pukor, dan Filosofi Biosaka

“Kita sedang menggali kubur pertanian sendiri,” tegas Dr. Lestari, peneliti tanah.

Sementara masih bergantung pupuk kimia, Indonesia tertinggal dalam tren global yang semakin mengutamakan produk organik.

“Pembeli dari Jerman hanya mau kopi organik. Kalau pakai pupuk kimia, harga jatuh separuh,” ungkap Firman, eksportir kopi Sumatera Utara.

Kesenjangan antara praktik lokal dan tuntutan internasional menjadi tekanan serius bagi ketahanan pertanian nasional.

Di tengah krisis ini, muncul alternatif: Biosaka larutan alami berbasis rerumputan, digagas oleh Muhammad Ansar dari Blitar—seorang petani yang meriset sejak 2006 dan mulai menyosialisasikan luas sejak 2011.

Biosaka bukan pupuk, melainkan elisitor—memicu respons alami tanaman. Tanah lebih subur dan biaya produksi jauh lebih murah. Ansar menegaskan: “Biosaka bukan sekadar teknik, tapi gerakan moral menyelamatkan alam.”

Hingga kini, adopsi Biosaka telah mencapai lebih dari 17 kecamatan di Magelang utamanya untuk padi dan bahkan kobis di Hortikultura, dengan hasil panen lebih besar dan hemat biaya hingga 80 %.

Bahkan di Bantul, Yogyakarta, ada rekor MURI dalam acara massal pembuatan Biosaka oleh lebih dari 1.000 peserta yang juga diaplikasikan di lahan seluas 400 hektar, menghasilkan gabah kering rata-rata. 10,42 ton per hektar.

Baca Juga :  Sisa Tomat Jangan Dibuang, Ini Cara Buat Jadi Pupuk Organik Cair...

Menurut Kementan, aplikasi Biosaka di Blitar pada luas 57 ha mampu menghasilkan gabah kering. 8,9 ton/ha, sekaligus mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga. 50-90 %.

Sebaliknya, kebijakan nasional masih berpihak pada pupuk kimia. Pada 2024, subsidi untuk pupuk kimia mencapai lebih dari. Rp26 triliun. Sementara dukungan untuk pupuk organik dan inisiatif seperti Biosaka masih minim.

“Selama subsidi hanya untuk pupuk kimia, petani tidak punya pilihan lain,” kritik pegiat LSM lingkungan.

Kementan menargetkan peningkatan penggunaan pupuk organik hingga 25 % di 2025, namun tanpa sistem insentif dan regulasi kuat, target itu rentan menjadi sekadar retorika.

Investigasi ini memotret dua wajah pertanian Indonesia: satu merosot karena pupuk kimia, satu lagi tumbuh karena kesederhanaan Biosaka.

Ketika pasar global menuntut produk ramah lingkungan, jalan menuju pertanian organik adalah keharusan, bukan pilihan.

Inovasi lokal seperti Biosaka bisa menyelamatkan masa depan pangan, jika mendapat dukungan serius dari pemerintah dan petani.

Apakah Indonesia siap berubah, atau tetap terperangkap dalam kenikmatan sesaat yang menghancurkan masa depan? (Mardizal)

Berita Terkait

Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA
Tanam Padi Langsung Setelah Panen Tanpa Olah Tanah, Ini Langkahnya
Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung
Bawang Merah 100 Persen Teknologi SAKA, Petani Ponorogo Ungkap Pola Budidaya Tanpa Pestisida dan Pupuk Kimia
Budidaya Tembakau Berbasis Biosaka di Sragen, Petani Klaim Lebih Hemat Biaya
Pengakuan Warga Lombok, Klaim Asma Tak Kambuh Setelah Menggunakan B2N1A6
Cabai Berusia 7 Bulan Masih Rajin Berbuah, Petani Pati Bagikan Pengalaman Pakai RR dan Biosaka
Ali Rizaldi Ceritakan Pengalaman Menggunakan B2N1A6 untuk Ibunya yang Pernah Stroke

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 22:02 WIB

Benih Padi Rontok dari Panen Kombin Bisa Tumbuh Lagi? Ini Penjelasan Teknologi SAKA

Jumat, 4 September 2026 - 16:02 WIB

Tanam Padi Langsung Setelah Panen Tanpa Olah Tanah, Ini Langkahnya

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:02 WIB

Ayam Diduga Tetelo Pulih Setelah Disemprot N1 Aktivasi 6, Ini Pengakuan Warga Lampung

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:29 WIB

Bawang Merah 100 Persen Teknologi SAKA, Petani Ponorogo Ungkap Pola Budidaya Tanpa Pestisida dan Pupuk Kimia

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Budidaya Tembakau Berbasis Biosaka di Sragen, Petani Klaim Lebih Hemat Biaya

Berita Terbaru

Kesehatan

8 Kebiasaan Buruk yang Bisa Mengganggu Kesehatan

Selasa, 22 Sep 2026 - 06:02 WIB

Kesehatan

Sering Perih di Ulu Hati? Coba Rebusan Lidah Buaya Ini

Senin, 21 Sep 2026 - 15:02 WIB

Kesehatan

Resep Lidah Buaya untuk Rambut agar Tetap Sehat

Senin, 21 Sep 2026 - 12:02 WIB